Yuddy Chrisnandi Luncurkan Buku Perjalanan Keempat Tahun Dubes RI di Kyiv

Yovie Wicaksono - 22 June 2021

SR, Jakarta – Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, Yuddy Chrisnandi meluncurkan buku yang berjudul Perjalanan Kerja Keempat Dubes RI di Kyiv. Dalam bukunya, Yuddy menyampaikan tiga tantangan selama bertugas menjadi Dubes Luar Biasa di Ukraina, Georgia, dan Armenia. 

“Di masa kurun waktu ini, Perwakilan RI yang saya pimpin menghadapi tiga front tantangan sekaligus yang cukup berat,” ujar Yuddy Chrisnandi, Senin (21/6/2021) sore. 

Tantangan tersebut, lanjut Yuddy, diantaranya menjaga moril seluruh keluarga besar staf KBRI agar tetap tenang menjaga kesehatannya, satu per satu mulai melemah daya tahan tubuhnya. Di tengah terjangan pandemik Covid-19 di Ukraina, berkali-kali staf KBRI terinfeksi dan berkali-kali dilakukan swab massal serta sterilisasi KBRI. 

“Saat terberat secara mental kami hadapi pada kurun Februari hingga April 2021 ketika dalam waktu bersamaan enam staf KBRI sakit karenanya, namun situasi terberat sudah kami lewati,” kata Yuddy. 

Tantangan kedua yakni perubahan pola hubungan diplomasi antar perwakilan, antar negara, dan antar diplomat yang membuat jarak keterbatasan aktivitas dan implementasi misi program diplomatik yang tidak berhenti. 

Tantangan ketiga, pemotongan anggaran yang terus berlangsung, pengurangan fasilitas penghasilan para diplomat dan segala hal terkait efisiensi, cukup menyulitkan implementasi program terlaksana, khususnya terkait dengan pembinaan WNI bahkan bantuan yang seharusnya diberikan kepada mereka. 

“Namun semua tantangan itu dapat kami atasi bersama tanpa menganulir aktivitas diplomatik yang sudah diprogramkan. Jajaran KBRI Kyiv dengan meyakinkan dapat beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang berubah cepat, menyesuaikan dan mengatasinya,” kata Yuddy. 

Mantan Menteri PANRB ini mengatakan, dari beberapa catatan tahun keempat ia bekerja, menurutnya yang paling monumental dan sangat penting adalah pemindahan gedung kantor KBRI yang lama, Ottoschimidta, yang sudah ditempati selama 11 tahun dengan status sewa. Enam bulan sebelum masa sewa berakhir pada Desember 2020, Yuddy sudah menyampaikan secara terbuka kepada seluruh staf KBRI untuk mencari alternatif lokasi gedung KBRI yang radiusnya tidak lebih dari 1 km dari Wisma Duta dengan ongkos sewa per tahunnya sedikit lebih murah dari harga terkini.

“Dari Agustus hingga Oktober 2020, tidak ada satupun staf yang tergerak memberikan informasi hingga saya membentuk Tim pencari gedung KBRI,” kata Yuddy. 

“Di akhir bulan Desember saya putuskan pindah dengan memboyong aset kantor ke tempat yang baru, 17 Universitetska street. Saya sendiri memimpin langsung pemindahan barang dan penataannya yang berlangsung sebulan kemudian. Sangat melelahkan namun sangat menyenangkan, menempati gedung kantor yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dan kini sudah memiliki fasilitas yang lengkap. Sekalipun masih berstatus sewa tapi biaya sewanya lebih murah US$ 4 ribu per bulannya atau menghemat US$ 48 ribu per tahun,” sambung Yuddy. 

Duta Besar Indonesia untuk New Zealand, Tantowi Yahya menyampaikan buku ini menjadi catatan penting dalam tugas diplomasi. Menurut Tantowi, ada dua hal yang membuat Indonesia ikut campur dalam permasalahan dunia. Pertama alinea keempat UUD 1945, yakni ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia. 

“Selama kita masih adopsi UUD 1945 maka kita harus melaksanakannya dalam kesempatan apapun,” kata Tantowi.  

Kedua, adalah tujuan politik luar negeri Indonesia yaitu menciptakan perdamaian dunia yang abadi, adil dan sejahtera. Tidak mungkin membayangkan rakyat sejahtera jika dunia tidak damai. 

“Kami para diplomat Indonesia tidak akan bisa lari dari tujuan politik tersebut. Orientasi kami adalah bagaimana kita bisa menciptakan perdamaian,” katanya. 

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Indonesia, Arif Satria mengatakan, selama 4 tahun Yuddy Chrisnandi berhasil menemukan titik sinergi sehingga identitas nasional tetap terjaga. Menurutnya, satu hal yang penting dari inisiasi Yuddy untuk Asean Center. 

“Ini adalah salah satu cara kita untuk bisa bersatu dalam persaudaraan Asean, ini sangat penting dan langkah yang luar biasa,” kata Arif. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.