Tak Sekadar Gaya, Sanggul dan Kebaya jadi Simbol Anggun dan Bijaknya Perempuan

Rudy Hartono - 18 September 2025
Komunitas Wanita Bersanggul Indonesia mengenakan dress code kebaya dan sanggul Madura, saat berpartisipasi dalam kirab budaya nusantara dan upacara Murwokolo oleh Parisada Hindu Dharma Gresik di Pura Kerta Bumi, Desa  Bongso Wetan, Kecamatan Menganti, Gresik, Sabtu (13/9/2025). (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Gresik – Bagi sebagian orang, kebaya dan sanggul sering dikaitkan dengan kesan kuno yang mulai ditinggalkan. Namun tidak bagi komunitas yang menamakan diri mereka Wanita Bersanggul Indonesia (WBI).

Organisasi yang berdiri sejak 17 Oktober 2022 tersebut secara konsisten memperkenalkan sanggul dan kebaya ke generasi muda. Berbagai aktivitas seperti naik transportasi umum atau sekadar jalan-jalan tak lepas dari warisan leluhur itu.

Bukan tanpa alasan. Pendiri dan Penasehat, pembina WBI Sami Rahayu menyebut, langkah ini untuk membangkitkan semangat dan rasa cinta masyarakat pada kekayaan luhur nusantara. Jangan sampai rasa memiliki baru muncul ketika kebaya di klaim negara lain. Terlebih, lanjutnya, banyak nilai-nilai yang terkandung dari dua atribut khas perempuan itu.

“Kalau generasi muda zaman sekarang kan tahunya ini hanya pakaian yang dipakai di event  di hari besar nasional  seperti karnaval, kartini, pengantin. Jadi kita berupaya memperkenalkan ini jangan sampai dilupakan,” ujar Sami, di sela acara kirab budaya nusantara dan upacara Murwokolo Pura Kerta Bumi di Desa Bongso Wetan, Menganti, GresikSabtu (13/9/2025).

Pendiri dan pembina WBI Sami Rahayu. (foto: vico wildan/superradio.id)

Menurutnya, sanggul mempunyai filosofi seseorang yang pandai menyimpan rahasia. Letaknya yang berada di belakang kepala menjadi simbol kedewasaan dan kebijakan perempuan. Mampu menyimpan beban yang dipikul, baik masalah pribadi maupun keluarga. Tetap kuat dan tersenyum, menjaga nama baik keluarga. “Kita memakai sanggul itu sebetulnya beban yang harus kita pikul, tapi kita tidak memperlihatkan secara keseluruhan. Kita tegap saja dengan muka cerah,” jelasnya.

Selain itu, sanggul juga menjadi penanda identitas tiap daerah. Misalkan, sanggul ukel konde Jawa Tengah dengan bentuk bulat menonjol, berbeda dengan sanggul bugis yang dipasang di belakang kepala dan berbentuk seperti tanduk.  “Bagi kami sanggul ini identitas, ciri bangsa indonesia. Coba kalau kemana-mana pakai sanggul, oh ini orang jawa, ini orang madura, jadi ada ciri khas nya,” terang Sami yang mengenakan kebaya dan sanggul ala gaya Madura itu.

Begitu pun dengan kebaya. Sami Rahayu menjelaskan, kebaya bukan sekadar pakaian, tapi melambangkan keanggunan, kelembutan, dan keteguhan perempuan Indonesia.

Ilustrasi – Sejumlah komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (duduk barisan depan) saat hadiri sosialisasi tentang Toleransi dan Keberagaman di Surabaya. (foto: dok/superradio.id)

Model kebaya yang sederhana dan padu padan dengan kain panjang (jarik) melambangkan sifat perempuan yang lemah lembut. Lilitan kain yang ketat dan penggunaan stagen (pengikat pinggang) dalam filosofi Jawa melambangkan kesabaran yang tinggi. Mencerminkan kemampuan perempuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.

Kebaya membingkai tubuh dengan anggun.  Menunjukkan penghormatan terhadap tubuh dan martabat diri seorang perempuan. Bawahan atau biasa disebut kain jarik juga membuat perempuan lebih anggun.

“Di WBI ini mempelajari itu. Kalau pakai jarik  itu kan langkahnya terbatas, jadi tertata. Lebih santun dan anggun,” terangnya.

Ia pun berharap, gerakan bersanggul dan kebaya ini bisa menular ke seluruh daerah. Kekayaan nusantara ini harus dijaga dan dilestarikan bersama, terutama generasi muda. “Saya berharap untuk anak-anak muda meskipun kita hidup di zaman modern jangan sampai melupakan jati diri bangsa indonesia. Tetap mencintai budaya Indonesia,” pungkasnya. (hk/jc/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.