SLB Negeri Gedangan Sidoarjo Terapkan Pembelajaran Gabungan 

Yovie Wicaksono - 4 September 2021
Proses Belajar Mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Sidoarjo – Terhitung sejak awal pekan lalu, Senin (30/8/2021), pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas dan bertahap sudah mulai kembali diterapkan di beberapa wilayah Jawa Timur (Jatim). Begitu pula di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Gedangan, Kabupaten Sidoarjo.

Kepala SLBN Gedangan, Miseri mengatakan, dalam pelaksanaannya, sekolah dengan total siswa sebanyak 193 orang mulai dari TKLB, SDLB, SMPLB, hingga SMALB ini, telah memberikan beberapa peraturan tambahan terhadap kegiatan belajar mengajar.

Dimana waktu belajar siswa dibatasi maksimal 2 jam dalam sehari, dengan jumlah 50 persen dari total siswa dalam 1 kelas, dan para siswa juga diwajibkan memakai masker dan face shield selama pembelajaran berlangsung.

“Diawal ini dari TK sampai SMK itu dibuat 4 jam pelajaran, dengan waktu per 30 menit. Tetapi SMA, SMK menerapkan hal yang berbeda. Misalnya ada yang masuk jam 7 khusus separuh dari kelas 10, tapi ada yang masuk jam 8, ada lagi yang masuk jam 9, tapi tetap 2 jam layanannya,” kata Miseri, Sabtu (4/9/2021).

Adapun terkait jadwal masuk, ia mengatakan, telah menerapkan sistem pembelajaran gabungan, yakni tatap muka dan daring. Dimana para siswa masuk secara bergantian dengan sistem shift, tiga atau dua kali dalam seminggu. Bagi siswa yang mendapat giliran belajar dari rumah, akan diberikan modul latihan yang bisa dikerjakan bersama orang tua.

“Kita prinsipnya sampai hari Jumat, tetapi untuk Jumat kita mengarahkan kepada seni, vokasi, dan kebugaran. Mungkin kalau ada yang masuk tiga kali, yakni Senin, Rabu, Jumat, nanti minggu depannya di rolling masuk Selasa, Kamis,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, dengan keadaan murid yang beraneka ragam tentu peraturan yang diberlakukan juga perlu disesuaikan. Sehingga pihaknya juga menghargai keputusan wali murid yang masih menghendaki anaknya untuk daring dibanding tatap muka. Terlebih pada kondisi anak yang memerlukan perlakuan maksimal selama di sekolah.

“Jadi kondisinya sangat beragam, dan kita tetap kata kuncinya seefektif mungkin memberi layanan kepada anak. Yang banyak agak mempertimbangkan untuk tidak tatap muka itu memang disabilitas daksa. Karena memang dia harus menggunakan kursi roda dengan mobilitas yang tidak bisa mandiri. Persoalannya rumit dan kompleks terutama untuk kelas awal sama kelas yang down syndrom,” jelasnya.

Selain itu, berbeda dengan sebelumnya, pada PTM kali ini pihaknya memberlakukan durasi 1 jam 1 murid pada kelas kecil yang diperuntukan sebagai wadah terapi bagi murid yang memerlukan penambahan tingkat fokus dan sosialisasi. Di kelas yang bertempat di aula tersebut, para murid diajarkan untuk menari dan melukis.

“Beberapa kelas itu menggunakan model shift, terutama untuk anak-anak yang memang membutuhkan pembelajaran yang sangat fokus, istilahnya plus terapi. Di kelas kecil untuk autis dan tuna rungu, dia mainnya per jam satu anak dilatih diterapi tapi ganti jam ganti siswa, langsung pulang lalu ganti siswa lain,” ucapnya.

Adanya keputusan PTM ini, ujar Miseri menjadi titik awal dan angin segar bagi para murid yang sudah rindu dengan sekolah. Ia menjelaskan, sebelumnya selama daring, banyak kesulitan yang dihadapi oleh guru dan murid.

Seperti yang dialami oleh Surya Wijayati, wali kelas 1 dan kelas 2 SDLB Negeri Gedangan. Perempuan yang akrab dipanggil Wiwit ini, mengaku banyak kendala yang ia alami selama mengajar di masa daring, terlebih yang berkaitan dengan gawai. Seperti pada kondisi murid yang tidak memiliki gawai sendiri, sehingga harus menunggu orang tuanya pulang kerja agar bisa mengikuti pelajaran.

“Kendalanya itu karena anak-anak ini anak istimewa jadi perlu pendampingan ekstra dari orang tua, kebetulan orang tua ini masih bekerja diluar. Jadi paling tidak saya harus komunikasi dengan orang tua bagaimana mendampingi anak dalam pembelajaran sehari-hari meskipun ketemunya cuma sore hari,” ucapnya.

Selanjutnya pada cara komunikasi yang memerlukan beberapa penyesuaian. Para murid berkebutuhan khusus yang sebelumnya hanya mengenal teknologi sekadar untuk melihat gambar, diharuskan membiasakan diri berkomunikasi melalui gawai dengan video call.

“Kan kebetulan murid saya ini dari empat siswa itu komunikasinya kurang lancar, karena mungkin organ bicaranya bermasalah ya. Jadi mungkin ada sedikit kata-kata, cuma ’emoh’, ‘iya’ ada yang seperti itu, ada yang bicaranya tidak jelas, ada yang lancar tapi pemalu, jadi beragam, kalau untuk komunikasi dia agak kesulitan jadi kadang gak mau lihat kamera,” tambahnya.

Selain itu, kondisi daring juga membuatnya kesulitan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak didiknya, sehingga pembelajaran dirasa kurang maksimal.

“Kalau sebelum pandemi kita langsung tahu kebutuhan anak itu seperti apa, kalau selama pandemi mau tidak mau selalu dibantu dengan orang tua, jadi kadang-kadang guru ini sebetulnya sudah mampu atau belum itu ada keragu-raguan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat itu tidak sedikit muridnya terutama kelas 1 SDLB yang saking rindunya dengan sekolah, mereka ikut datang bersama orang tua mereka untuk mengambil modul pembelajaran.

“Kalau anaknya sih selama ini minta sekolah, karena yang kelas satu itu juga belum pernah merasakan tatap muka setiap hari, kemudian yang kelas dua juga, jadi kadang anak ke orang tua itu bilang mau sekolah, jadi kadang kalau orang tua butuh apa ke sekolah, itu anak ikut,” lanjutnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Wiwin, salah satu wali murid anak tuna rungu kelas 1 SDLB. Ia bersyukur pembelajaran tatap muka kembali diterapkan.

“Ya alhamdulillah soalnya anak-anak SD memang harusnya sosialisasi kenal sama lingkungan sekolah, gurunya, teman-temannya. Kalau di rumah saya gak terlalu setuju. Jadi saya senang sekali, daripada daring lebih baik tatap muka seperti sekarang,” kata Wiwin. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.