Ning Nadia: PDI Perjuangan  Ternyata “Asyik” dan Tidak Menyeramkan

Rudy Hartono - 13 April 2026
Pengasuh Pondok Pesantren Qolam Wa Lauh (Kwagean, Kediri), Ning Nadia Abdurrahman, Lc memberikan tausiyah sekaligus ungkapkan kesan pertama di Halal Bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrilla Surabaya, Minggu (12/4/2026).(foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Pengasuh Pondok Pesantren Qolam Wa Lauh (Kwagean, Kediri), Ning Nadia Abdurrahman, Lc mengungkapkan kesan positif pada gelaran Halal Bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrilla Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Ia yang baru pertama kali mengisi tausiyah di acara partai itu mengaku sempat gugup. Namun semua itu sirna ketika bertatap muka dengan para kader banteng. Ternyata suasananya sangat guyub, hangat, ramah, dan menyenangkan.

“Pertama kali nyemplung, istilahnya bergabung untuk bertatap muka bersama orang-orang di balik kesuksesan PDI Perjuangan. Masya Allah, ternyata seasyik itu, gak semenyeramkan yang dibayangkan,” ujarnya.

Ia pun mengapresiasi upaya PDI Perjuangan dalam menjaga tradisi nusantara yang diwariskan Bung Karno. Salah satunya lewat halal bihalal.

Menurutnya, silaturahmi melalui halal bihalal memiliki nilai yang sangat tinggi. tradisi ini adalah implementasi nyata dari perintah Allah untuk berislah atau mendamaikan hubungan antarmanusia (aslihu baina akhawaikum).

“Halal bihalal sendiri ternyata dalam sebuah hadis dikatakan jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah nawafil ternyata halal bihalal atau bersilaturahmi menjadi afdal,” tuturnya.

“Kata Kanjeng Nabi, Saya sudah mengatakan kepada kalian bidolami yang lebih fadol, yang lebih utama dari siam nafilah dan juga asal nafilah ternyata adalah al-islah bainana,” imbuhnya.

Bukan tanpa alasan. Ning Nadia menyebut, kesalahan antar manusia (huququl ibad) tidak bisa diselesaikan hanya dengan taubat kepada Allah, melainkan harus melalui kerelaan langsung dari sesama manusia. karena itu, forum silahturahmi  yang diadakan PDI Perjuangan Jatim ini menjadi sarana penting untuk saling menghalalkan dan menggugurkan dosa sosial.

Ia pun mengajak para kader untuk mencapai tingkatan tertinggi dalam silaturahmi, yaitu tetap menyambung hubungan meskipun kepada mereka yang pernah memutusnya. Menanamkan 3 nilai spiritual di kehidupan sehari-hari: takhali, tahali, dan tajali.

Sekilas diuraikan,  takhali dimaksudkan mengosongkan hati atas dendam dan kesalahan yang diperbuat orang kepada orang lainnya. Kemudian tahali yakni membersihkan dan menghiasi hati kita dengan memaafkan. Terakhir tajali, yakni memastikan bahwa hubungan kita hukqul ibad akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Setibanya kita di majelis ini, semoga sama-sama bisa kita renungkan, kita sama-sama akan keluar dari gedung ini dengan tiga oleh-oleh. Setidaknya halal bihalal silaturahmi kita memenuhi tiga makna yang mendalam,” tandasnya. (hk/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.