Mahfud MD : Covid-19 Munculkan Nasionalisme Baru

Yovie Wicaksono - 26 May 2020
Menko Polhukam Mahfud MD. Foto : (Super Radio/Niena Suartika)

SR, Jakarta – Munculnya pandemi virus corona atau Covid-19 menimbulkan nasionalisme baru di kalangan bangsa-bangsa di dunia. Karena hampir semua negara bicara atas nama negaranya sendiri untuk menyelamatkan negaranya, tidak lagi bicara lintas negara, lintas kebangsaan. 

Demikian pernyataan yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Moh. Mahfud MD pada acara Silaturahmi KMA-PBS secara virtual, Senin (25/5/2020).

“Semua berjuang agar negaranya selamat dan tertolong, serta mendapat fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menyelamatkan bangsanya dari Covid-19,” katanya.

Mahfud bercerita ketika meledaknya Covid-19 ini di awal Maret 2020. Karena perkembangannya dari hari ke hari luar biasa masif dan penyebarannya cepat membuat pemerintah dan masyarakat  kelimpungan karena kekurangan Alat Pelindung Diri (APD), alat-alat kesehatan Rapid Test, PCR, dan sebagainya. Sehingga yang terjadi saat itu menghubungi semua negara yang memiliki pabrik alat-alat kesehatan dan obat-obatan. 

“Itu rebutan, semua negara berebut, berapa pun harganya berebut, termasuk Indonesia, Indonesia bersaing dengan Amerika, India, dengan berbagai negara lain, dimanapun alatnya itu ada, mau kita beli dan kita tidak nawar. Kenapa? karena kita berpikir bangsa kita harus selamat. Negara lain juga begitu, jadi rebutan, barangnya kurang, disitulah kemudian terasa bahwa kita ini sebagai bangsa kemudian terpanggil solidaritas kebangsaannya dan negara lain juga bicara bangsanya sendiri,” kata Mahfud. 

Selain itu,  kondisi ekonomi nasional yang mulai ambruk pun kini bertumpu pada kekuatan negaranya masing-masing. Di kalangan masyarakat Indonesia misalnya, tumbuh industri-industri untuk membuat alat-alat kesehatan sendiri. 

Ada juga berbagai kampus dengan semangat nasionalismenya membuat rancangan APD, rancangan ventilator, alat-alat test kesehatan. Kemudian timbul gerakan-gerakan solidaritas pembangunan ekonomi bersama, sehingga itu juga dikatakan indikator munculnya nasionalisme baru. 

“Nasionalisme baru dipicu oleh kenyataan bahwa Covid-19 ini tidak mengenal partai, tidak mengenal ideologi, apakah itu penganut ideologi Pancasila, kapitalisme, komunisme, semua diserang. Partainya yang dari Golkar diserang, dari Partai PDIP diserang, semua diserang, DPR juga, eksekutif, legislatif, dokter pun diserang. Sehingga, kemudian kita dalam berjuang melawan Covid tidak lagi memikirkan sekat-sekat kebangsaan kita, sub kebangsaan kita,” kata Mahfud.  

“Oleh karena itu dengan segala kejelekannya, sangat mematikan, dan sangat mengancam, Covid-19 ini ternyata menjadi stimulus bagi kebersatuan kita dalam menghadapinya bersama-sama tanpa pijakan ideologis dan partai apapun,” sambungnya. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.