Jalur Afirmasi Khusus Bermasalah, Puluhan Difabel Tidak Lolos SPMB
SR, Surabaya – Terdata ada 26 siswa difabel tidak diterima di sekolah negeri dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di Surabaya. Padahal telah lama disosialisasikan adanya jalur afirmasi bagi anak disabilitas.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya, Yuli Purnomo, menilai alasan penolakan tak dapat dibenarkan. Ia menegaskan bahwa jalur afirmasi untuk peserta didik disabilitas merupakan kebijakan resmi yang sudah memiliki mekanisme serta kuota di setiap sekolah.
“Kalau mereka sudah memenuhi indikator penerimaan, ya seharusnya diterima. Setiap sekolah punya kuota khusus untuk anak disabilitas,” kata Yuli seperti dilansir rri.co.id, Senin (7/7/2025).
Yuli juga mengingatkan bahwa Dinas Pendidikan telah memberi pelatihan dan bimbingan teknis kepada guru-guru untuk menangani siswa berkebutuhan khusus. Artinya, secara sistem, sekolah seharusnya sudah siap menyambut kehadiran siswa disabilitas.
Menurutnya, jika penolakan tetap terjadi, maka perlu ada penelusuran lebih lanjut. “Pemerintah pasti sudah menyiapkan program ini dengan fasilitas dan SDM yang sesuai. Kalau masih ada penolakan, motif atau alasannya harus dibuka secara jujur dan transparan,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya keberadaan Peraturan Wali Kota (Perwali) yang mengatur jalur afirmasi bagi anak disabilitas. Aturan tersebut, kata Yuli, mewajibkan seluruh sekolah negeri, baik SMA maupun SMK, untuk menerima peserta didik disabilitas tanpa diskriminasi.
Dewan Pendidikan mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses seleksi jalur afirmasi agar tidak ada hak anak yang terabaikan.

Kurang Tenaga Guru Pendamping
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, membantah adanya penolakan siswa disabilitas. Yang terjadi karena keterbatasan kuota dan dan kesiapan sekolah khususnya tenaga pengajar khusus.
“Jadi kuota (disabilitas –Red) setiap sekolah sudah diisi semua itu sudah cukup. Jadi bukan ditolak, karena ketercukupannya itu yang terbatas,” kata Aries seperti dilansir rri.co.id, Senin (7/7/2025)..
Ia juga menegaskan bahwa setiap anak berkebutuhan khusus harus melalui proses asesmen agar penempatannya tepat. “Jadi kalau kita penuhi semua, seumpama anak kita masukkan, lalu siapa gurunya?,” kata Aries.
Menurutnya, sekolah umum memiliki keterbatasan dalam menyediakan guru pendamping yang kompeten. Berbeda halnya sekolah luar biasa (SLB) atau sekolah khusus menjadi alternatif yang lebih sesuai karena memiliki tenaga pendidik yang terlatih untuk mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Ia juga menyebut bahwa beberapa siswa difabel sudah masuk di sekolah kejuruan dengan jurusan seperti tata boga dan kecantikan. Menurutnya, sekolah kejuruan memiliki ruang lebih fleksibel dalam menerima siswa difabel.
“Kalau di sekolah umum, terbatas. Kalau dipaksakan masuk, sedangkan tidak ada gurunya, terus nanti dibiarkan, akan jadi dampak yang tidak bagus,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan masalah baru.
Xxxx
Surabaya:
Tags: disabilitas, jalur afirmasi, spmb, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





