Gejala Dehumanisasi, Luka Tak Terlihat Sering Melatari Pelaku Mutilasi

Rudy Hartono - 16 October 2025
Para ahli, profesional dan praktisi terkait ilmu kejiwaan sebagai nara sumber seminar “Mental Emergency: Pertolongan Pertama untuk Luka yang Tak Terlihat” di RSJ Menur Rabu (15/10/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya — Seminar “Mental Emergency: Pertolongan Pertama untuk Luka yang Tak Terlihat” di RSJ Menur Rabu (15/10/2025) menyoroti urgensi sistem deteksi dini dan pemulihan martabat manusia dalam kasus-kasus pembunuhan dan mutilasi.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Dr Fauzi Pratama, salah satu nara sumber seminar,  menjelaskan bahwa dalam sejumlah kasus mutilasi, pelaku menunjukkan tanda-tanda dehumanisasi, yaitu hilangnya empati dan koneksi sosial. Atas gejala itu, Fauzi mendorong adanya program atau kegiatan yang bisa menciptakan relationship atau hubungan yang baik antara individu dengan lingkungannya, termasuk lingkungan keluarga terdekat.

“Ancaman hukum yang tinggi untuk mencegah perbuatan mutilasi, tidaklah cukup,” ujarnya. “Kita butuh kolaborasi antara kepolisian dan masyarakat untuk membangun kesadaran untuk mencegah hal ini terjadi, maka dari itu kita harus faham betul gejala gejala nya salah satunya adalah dehumanisasi.”ujarnya.

Direktur RSJ Menur drg Vitria Dewi MSi membuka seminar “Mental Emergency: Pertolongan Pertama untuk Luka yang Tak Terlihat” di RSJ Menur Rabu (15/10/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Lebih jauh Direktur RSUD RA Basoeni Mojokerto Dr Rasyid Salim SpKJ Subsp AR menekankan bahwa kekerasan ekstrem tak bisa dilepaskan dari dinamika psikologi dan tekanan sosial yang mereka alami. “Multilasi itu bisa orang lakukan karena akumulasi dari luka yang menumpuk, Jika hal itu di biarkan kita justru memperparah psikis yang sudah ada,” pendapat Dr Rasyid yang menyoroti kasus multilasi dengan korban Tiara oleh pelaku yang juga kekasihnya Alvi Maulana bulan lalu.

Ditambahkan dr. Ivana Sajogo Sp KJ, dari RSJ Menur, bahwa dehumanisasi juga bisa terjadi dalam pelayanan kesehatan jiwa. Ia mengajak peserta yang didominasi pekerja medis kesehatan jiwa, untuk mengubah paradigma dari melihat pasien sebagai objek penyakit menjadi individu utuh yang berhak atas empati dan pemulihan.

Peserta yang didominasi tenaga medis hadiri acara seminar “Mental Emergency: Pertolongan Pertama untuk Luka yang Tak Terlihat” di RSJ Menur Rabu (15/10/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Seminar dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia itu diikuti lebih dari 3.000 peserta daring dan puluhan tenaga medis itu. Seminar dibuka oleh Direktur RSJ Menur drg Vitria Dewi MSi. Dikatakan sepanjang 2025, tercatat 1.314 kasus pasien yang menyakiti anggota keluarga, dengan 87,1% dari kelompok usia produktif menunjukkan kecenderungan melukai diri sendiri. “Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan luka batin yang tak tertangani dan minimnya kesadaran terhadap pertolongan pertama psikologis,” pungkasnya. (*/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.