Gapura Wringin Lawang, Pintu Masuk Kerajaan Majapahit

Yovie Wicaksono - 2 May 2021
Gapura Wringin Lawang, Pintu Masuk Kerajaan Majapahit. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Mojokerto – Berwisata sambil belajar? Kabupaten Mojokerto bisa menjadi pilihan yang tepat. Pasalnya di kabupaten yang memiliki 382.557 kepala keluarga ini, terdapat banyak peninggalan kerajaan Majapahit. Utamanya di Kecamatan Trowulan dan Gapura Wringin Lawang salah satunya.

Juru pelihara Gapura Wringin Lawang, Jono mengatakan, dari cerita sesepuh yang tinggal di sekitar gapura ini sebutan Wringin Lawang muncul karena dulu terdapat dua buah Pohon Beringin yang mengapit gapura tersebut.

“Ini pintu masuk dari arah timur ke barat menuju ke daerah atau wilayah Majapahit. Dulu ada sepasang pohon beringin, makanya dinamakan Gapura Wringin Lawang. Wringin itu artinya Pohon Beringin dan Lawang artinya pintu,” ujarnya. Minggu (2/5/2021).

“Gapura Wringin Lawang adalah tipe candi bentar yang biasanya berfungsi sebagai gerbang luar dan suatu kompleks candi atau kompleks bangunan lainnya,” imbuhnya.

Masyarakat setempat menyebut gapura ini sebagai pepunden, dimana ketika masyarakat akan memiliki hajat seperti akan melakukan perkawinan atau khitanan pasti akan mengadakan tumpengan di gapura tersebut.

“Ruwah dusun juga dipusatkan disini. Saat purnama juga ramai dikunjungi, bukan hanya dari Jawa Timur saja, tapi juga ada yang dari Jakarta dan Yogyakarta,” kata pria yang menjadi juru pelihara generasi ke empat ini

Gapura Wringin Lawang di Dukuh Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

Bangunan kuno yang terbuat dari bata ini telah dikenal sejak tahun 1815 dalam tulisan Raffles yang disebut dengan nama Gapura Jati Pasar. Sementara pada 1907 dalam tulisan Knebel gapura ini dikenal dengan nama Gapura Wringin Lawang.

Berdasar literatur, bentuk dasar denah Gapura Wringin Lawang adalah persegi empat dengan ukuran 13 x 11,50 meter, kaki gapura setinggi 4,70 meter. Kemudian tubuh gapura mencapai 6,60 meter.

Tinggi atap gapura ini 7,85 meter dengan bentuk bertingkat dan pada masing-masing tingkatan terdapat biasan berbentuk menara-menara kecil, sedangkan pada ujung-ujung atap gapura dihiasi dengan antefik-antefik.

Pada gapura juga terdapat lorong yang lebarnya 3,50 meter dengan di sisi timur dan baratnya terdapat sisa-sisa anak tangga yang semula tampak dibatasi oleh pipi tangga. Kemudian pada sisi utara dan selatan gapura terdapat sisa struktur bata yang mungkin merupakan bagian dari tembok keliling.

Selain itu, di sebelah barat daya dan tenggara Gapura Wringin Lawang ditemukan pula 15 sumur kuno berbentuk segi empat dan silinder.

“Sebagian yang sumur jobong dibawa ke museum, tapi yang bata-bata masih ada,” imbuh Jono.

Gapura Wringin Lawang dipugar pada tahun 1991 hingga 1995. Sebelum dipugar bangunan ini dalam keadaan rusak dengan tinggi 15,50 meter, kaki dan tubuh gapura masih berdiri, namun pada bangunan sisi utara sebagian tubuhnya dan puncak gapura telah runtuh dan hilang dengan menyisakan tinggi 9 meter. Sedangkan bangunan sisi selatan kondisinya masih dalam keadaan relatif utuh, hanya bagian kemuncak saja yang hilang.

Peresmian pasca pemugaran dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (era Kabinet Pembangunan VI) pada 9 September 1995.

Gapura Wringin Lawang secara administratif terletak Dukuh Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan. Dibuka untuk umum, setiap hari mulai 07.00 – 17.00 WIB. Hari Minggu menjadi hari yang paling ramai pengunjung.

Pandemi Covid-19 membuat Gapura Wringin Lawang ditutup untuk sementara, sebelum dibuka kembali pada 3 Agustus 2020 lalu. Di era baru ini, para pengunjung yang datang tetap diminta untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.