Dokter se-Surabaya Bantu Petakan Kesehatan Warga di Setiap RW

Rudy Hartono - 29 January 2026
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di sela penandatanganan nota kesepahaman bersama dengan IDI Surabaya tentang penanganan kesehatan masyarakat di Surabaya, Rabu (28/1/2026). (sumber: antara)  

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya menandatangani nota kesepahaman terkait peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat salah satunya memetakan kesehatan warga tingkat rukun warga (RW).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Surabaya, Jatim, Rabu (28/1/2026) mengatakan Pemkot Surabaya dan IDI bersepakat memperkuat upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat dengan pendekatan berbasis data dan sains, dimulai dari tingkat paling dasar, yakni RW.

“Dengan demikian, kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memetakan kondisi kesehatan warga secara lebih detail dan menyeluruh,” katanya.

Ia mengatakan kerja sama ini mencakup penguatan layanan kesehatan anak dan remaja, kesehatan perempuan dan kesehatan reproduksi, penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, penyakit degeneratif, hingga kanker, serta upaya penanggulangan Tuberkulosis (Tb).

“Kerja sama ini diawali dengan pemetaan kondisi kesehatan warga di tingkat RW. Dalam satu RW, kami ingin mengetahui secara detail persoalan kesehatan yang ada, bukan hanya penyakit, tetapi juga kondisi kesehatan secara menyeluruh, seperti stunting maupun ibu dengan risiko tinggi,” kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Ia menjelaskan, dari pemetaan tersebut akan terlihat gambaran penyakit dan masalah kesehatan yang dihadapi warga, mulai dari hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hingga persoalan kesehatan ibu dan anak. Data tersebut kemudian akan dihimpun untuk membentuk klaster-klaster kesehatan di setiap RW.

“Melalui telaah dan kajian dari IDI, kita bisa mengetahui sebenarnya Surabaya ini darurat kesehatan di sektor apa. Dari situ, kita susun langkah-langkah penanganannya,” ucapnya.

Ia mengatakan, keberhasilan program ini nantinya dapat diukur melalui penurunan kunjungan warga ke rumah sakit dan puskesmas akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

Ia menekankan bahwa tingginya angka kunjungan rumah sakit bukan selalu menjadi indikator keberhasilan, terutama jika kunjungan tersebut disebabkan oleh sakit yang bisa dicegah.

“Daerah yang baik bukan daerah dengan kunjungan rumah sakit yang tinggi karena sakit, tetapi kunjungan untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Itu artinya masyarakat sehat dan upaya preventif berjalan,” katanya.

Ia juga menyadari bahwa Pemkot Surabaya tidak bisa bekerja sendiri dalam mewujudkan hal tersebut. Oleh karena itu, ia mengapresiasi gagasan dan dukungan dari IDI yang mendorong kolaborasi ini segera direalisasikan melalui MoU.

Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai, keterbukaan dan visi besar Wali Kota Eri menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

“Alhamdulillah, kami bersyukur memiliki pemimpin yang sangat terbuka dan memiliki visi jauh ke depan. Kami diajak berkolaborasi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Surabaya berbasis data dan sains,” ujarnya.

Ia menjelaskan, IDI Cabang Surabaya memiliki sekitar 7.600 anggota, mulai dari guru besar, dokter spesialis, hingga mahasiswa kedokteran. Potensi besar tersebut siap dikerahkan untuk mendukung program kesehatan Pemkot Surabaya secara terstruktur dan berkelanjutan.

“Mulai dari identifikasi masalah kesehatan, analisis solusi, intervensi bersama seluruh pemangku kepentingan, hingga evaluasi, semuanya dilakukan berbasis data dan sains sampai ke tingkat RW. Kami yakin hasilnya akan sangat baik bagi kesehatan masyarakat Surabaya,” ujarnya. (*/ant/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.