Cegah Politik Identitas, Agatha Sosialisasikan Wawasan Kebangsaan

Yovie Wicaksono - 1 December 2021
Gelaran Wawasan Kebangsaan di Hotel Crown Prince, Surabaya, Selasa (30/11/2021). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur (Jatim), Agatha Retnosari kuatkan kebhinekaan dan nilai Pancasila kepada para pendidik melalui gelaran Wawasan Kebangsaan di Hotel Crown Prince, Surabaya, Selasa (30/11/2021).

Mengambil Tema “Tantangan Pendidikan dalam Merawat Nilai Kebhinekaan”, Agatha mengajak segenap kepala sekolah Katolik, pengurus yayasan, serta pemerhati pendidikan untuk mengingat kembali panggilan jiwa mereka selaku salah satu pembentuk wajah generasi muda di masa mendatang. 

“Kalau melihat Indonesia 2045 nanti, kita ingin Indonesia seperti apa, itu yang bisa membentuk anak ini, selain orang tua adalah guru. Jadi guru tidak hanya delivering content tapi juga mendidik mulai dari kepribadian hingga cara berpikir,” ujarnya saat ditemui Super Radio.

Karena itu, lanjutnya, nilai-nilai Pancasila serta toleransi antar keberagaman harus ditanamkan ke generasi muda sejak dini. Kecerdasan multikultural terus disebarkan, terutama dalam upaya menangkal politik identitas serta radikalisme. 

“Saya berfokus pada guru karena saya pribadi punya pendapat bahwa hanya pendidikan yang bisa melakukan perubahan zaman,” ujarnya.

“Ini penting untuk dibangun, supaya nanti 2024, kalau memang ada pihak yang ingin memainkan isu politik primordial seperti dulu dan lebih keras, sudah tidak mendapat tanggapan dari anak muda. Makanya kuncinya sebenarnya ada di komunikasi, semakin kenal otomatis prasangka yang sebelumnya bisa dihilangkan,” lanjutnya.

Senada dengan hal tersebut, Prod. Dr. Anita Lie selaku narasumber dalam acara tersebut mengungkapkan, hal terpenting dalam pendidikan anak adalah meningkatkan ketahanan well being dan pendidikan multikultural. 

Pendidikan multikultural ini, ungkapnya, memiliki beberapa manfaat terhadap generasi muda. Diantaranya, mendorong daya berpikir kritis, mencegah prasangka dan diskriminasi berdasarkan SARA, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah untuk semua anak dari berbagai latar belakang.

“Well being ini sekarang diterjemahkan menjadi merdeka belajar. Jadi anak-anak ini  bisa tetap belajar, dan tetap sehat pola pikir dan mentalnya,” ucap Anita saat memaparkan materinya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.