BPOM Temukan Takjil Berformalin

Fena Olyvira - 20 May 2019
Ilustrasi. Foto : (Antara)

SR, Jakarta – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengatakan, sebagian besar temuan BPOM hingga pertengahan Ramadan tahun ini untuk pangan jajanan berbuka puasa (takjil) di berbagai kota di Indonesia dicampur bahan berbahaya formalin.

Melansir Antara, dalam jumpa persnya di Jakarta, Senin (20/5/2019), Penny mengatakan dari hasil intensifikasi BPOM terhadap bahan berbahaya yang banyak disalahgunakan pada pangan yaitu formalin 39,29 persen, boraks (32,14 persen) dan rhodamin B (28,57 persen).

Dia mengatakan, persentase itu diambil dari 2.804 sampel yang diperiksa oleh petugas BPOM di berbagai kota di Indonesia.

Sementara itu, terdapat 83 sampel atau 2,96 persen pangan takjil tidak memenuhi syarat (TMS).

TMS sendiri dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu agar-agar, minuman berwarna, mie dan kudapan.

Penny mengatakan, apabila dibandingkan dengan data intensifikasi pangan pada 2018, tahun ini terjadi penurunan persentase produk takjil yang TMS.

Pada pelaksanaan intensifikasi tahap III tahun 2018, sampel yang tidak memenuhi syarat sebesar 5,34 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan pemahaman pedagang takjil yang kebanyakan merupakan ibu rumah tangga terhadap keamanan pangan semakin meningkat,” katanya.

Penny mengatakan, hal itu tidak terlepas dari upaya BPOM bersama kementerian dan lembaga terkait yang gencar melakukan sosialisasi serta komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat dan pelaku usaha. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.