Menarik Simpati Anak Muda jadi Tantangan PDI Perjuangan Tetap Bertahan

Rudy Hartono - 11 January 2025
Pengamat Politik Adi Prayitno menjadi pembicara di seminar HUT PDI Perjuangan bertema "Refleksi 52 Tahun PDI Perjuangan, Perjalanan Panjang Serta Berliku Merawat dan Mengawal Demokrasi" di Grand Mercure Surabaya, Sabtu (11/1/2025). (foto:hamidiah kurnia/superradio.id) Peserta seminar HUT PDI Perjuangan di Grand Mercure Surabaya, Sabtu (11/1/2025). (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Pengamat Politik Adi Prayitno menyakini PDI Perjuangan masih menjadi partai besar yang harus diperhitungkan di 2029.  Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara pada Seminar HUT PDI Perjuangan : Refleksi 52 Tahun PDI Perjuangan “Perjalanan Panjang Serta Berliku Merawat dan Mengawal Demokrasi” di Grand Mercure Surabaya, Sabtu (11/1/2025).

“Basis PDI untuk pemilihan legislatif antara 14-16 persen, perolehan tetap disitu walaupun sempat babak belur. Ini hebat di tengah perang terbuka PDI melawan jokowi, ini menjelaskan kerja politik solid dan signifikan,” ucapnya.

Sayangnya, hal tersebut dinilai belum maksimal jika PDI Perjuangan masih mepertahankan citra partai yang keras dan cenderung menyerang.

Peserta seminar HUT PDI Perjuangan di Grand Mercure Surabaya, Sabtu (11/1/2025). (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Adi menjelaskan, di pandangan publik, citra PDI Perjuangan terbagi dua. Ada tokoh yang menampilkan citra keras dan menyerang. Namun ada pula yang menunjukan citra bersahabat yang berhasil menampilkan pemilu sekadar kompetisi tanpa memengaruhi hubungan ke depan.

Citra inilah yang perlu evaluasi. Mengingat jumlah pemilih berusia 17-40 tahun berkisar 56 persen dan mendominasi Pemilu mendatang, maka perlu pendekatan berbeda.  “Per hari ini publik melihat PDI wajahnya terbelah dua. Kalau melihat Hasto dan kawan kawannya adalah wajah yang cukup marah, menyerang habis-habisan dan membabi buta. Ini jadi pertaruhan politik yang tidak mudah,” ungkapnya.

“Selama ini ada dugaan kalau galak dan agresif suaranya akan naik itu gak terkonfirmasi juga,” lanjutnya.

Pandangan politik pun telah berubah. Generasi muda tak lagi menyukai komunikasi politik yang agresif. Mereka lebih menyukai narasi edukatif yang menyenangkan. “Membangun citra politik adalah syarat penting bagi partai karena pertarungan antara wajah PDI Perjuangan yang lunak dan keras itu perlu difikirkan,” cetus pengamat politik asal Madura itu.

Untuk itu tantangannya adalah mengkolaborasikan pandangan ideologis khas PDI Perjuangan dengan pembawaan yang lebih fleksibel.  “Untuk pemilih muda yang mereka tahu adalah politik penuh kesantaian tanpa huru hara. Harus mengkawinkan ideologi itu dengan basis massa yang lebih fleksibel,” sebutnya.

Selain itu, peluang lainnya juga ada di ceruk pemilih kritis. Namun hal itu juga perlu sangat cermat dan penuh pertimbangan. “Ceruk pemilih kritis dan orang yang kecewa pada pemerintah saat ini masih bisa menjadi peluang PDI Perjuangan,” tuturnya. (hk/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.