Eri Cahyadi Ingatkan Pengembang Perumahan Soal Kolam Penampungan Air

Yovie Wicaksono - 22 February 2024

SR, Surabaya – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengingatkan kepada seluruh pengembang perumahan untuk memperhatikan keberadaan kolam penampungan air. Pasalnya, keberadaan kolam penampungan dinilainya penting untuk mencegah banjir di wilayah sekitar saat terjadi hujan deras.

“Jadi perumahan-perumahan saya sarankan untuk membuat kolam tampung. Sehingga tidak langsung dibuang ke sungai,” kata Eri Cahyadi, Rabu (21/2/2024).

Eri menyebut, dahulu pembangunan perumahan memang tidak diwajibkan membuat kolam tampung. Namun, lambat laun jumlah perumahan terus bertambah hingga membuat lokasi yang dulunya merupakan tanah resapan menjadi terus berkurang.

“Karena itu sejak saya menjadi wali kota, setiap perumahan yang membangun, harus memiliki kolam tampung. Apalagi perumahan ada di hulu dan hilirnya perkampungan warga,” ujarnya.

Ia menilai, keberadaan kolam tampung memiliki manfaat besar untuk menahan laju air sebelum dialirkan langsung menuju sungai. Utamanya, saat turun hujan dengan intensitas tinggi.

“Karena kalau hulunya dibiarkan, tidak pakai kolam tampung, airnya langsung dibuang ke sungai, ya (hilirnya) banjir,” katanya.

Misalnya, Eri mencontohkan, seperti yang terjadi di kawasan Jalan Pakal Madya, Kelurahan Pakal, Kecamatan Pakal Surabaya. Di sana, belasan tahun dilanda banjir meski hanya terjadi 2-3 kali dalam setahun. Bahkan, saat tidak turun hujan, kawasan Pakal Madya juga pernah dilanda banjir.

“Pakal Madya tidak setiap hujan banjir. Tapi kalau hujannya deras dan di wilayah Gresik juga deras, maka di sini Pakal Madya banjir,” tuturnya.

Pun demikian seperti di wilayah Kecamatan Wiyung Surabaya. Eri mengungkap, di kawasan itu ada kompleks perumahan besar yang dulu langsung mengalirkan air melalui lubang besar menuju ke sungai. Nah, saat hujan deras, kapasitas sungai tidak mampu menerima limpahan air yang besar sehingga mengakibatkan banjir di sekitarnya.

“Karena itu saya minta lubang ditutup, akhirnya posisi-posisi (air) di perumahan itu harus ditampung di dalam kolam tampung,” ungkapnya.

Di sisi lain, Eri juga meminta lurah dan camat agar memperhatikan pembangunan perumahan dengan skala kecil. Sebab, perumahan dengan skala kecil tidak diwajibkan membuat kolam penampungan air seperti bozem.

“Saya berharap teman-teman camat dan lurah untuk lebih fokus kepada pembuatan perumahan yang satu blok. Karena kalau perumahan itu kan tidak memiliki kewajiban membuat tampungan air,” katanya.

Akan tetapi, apabila satu blok perumahan itu kemudian jumlah dan luasannya bertambah hingga 1 hektar, tentu akan berdampak besar terhadap berkurangnya tanah resapan. “Karena dulu awalnya tanah kosong atau sawah untuk tampungan air, kemudian dibuat perumahan,” jelasnya.

Oleh karenanya, Eri meminta camat dan lurah memperhatikan pembangunan perumahan di wilayah masing-masing. Dengan begitu, bisa dihitung berapa beban yang dibutuhkan perumahan untuk tempat penampungan air.

“Mulai sekarang ketika pengembang bangun satu ancer tanyakan dulu, bebannya berapa. Jadi nanti dihitung, nanti setiap satu ancer tetap punya beban untuk membuat saluran air,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.