Bung Karno Dekat Ulama Dukung Pesantren hingga Al-Azhar di Mesir  

Rudy Hartono - 13 April 2026
Ketua DPP PDIP Bidang Kebijakan Publik dan Reformasi Birokrasi Kerakyatan Abdullah Azwar Anas paparkan nilai nilai religius Bung Karno saat Halal Bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrila, Minggu (12/4/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Selama puluhan tahun, narasi sejarah yang diwariskan oleh era Orde Baru berhasil membangun citra seolah-olah Bung Karno adalah sosok yang sekuler, berjarak dari nilai-nilai agama. Namun, jika menilik kembali lembaran sejarah pada tahun 1948, kita akan menemukan potret yang sangat berbeda.

Ketua DPP Bidang Kebijakan Publik dan Reformasi Birokrasi Kerakyatan di PDI Perjuangan Abdullah Azwar menjabarkan, pada kenyataannya Bung Karno memiliki kedekatan spiritual yang sangat kuat dengan para ulama.

Salah satu momen bersejarah terjadi pada tahun 1948 pasca kemerdekaan, dimana saat itu banyak konflik muncul dan tokoh-tokoh hebat bangsa mengalami polarisasi yang begitu tajam hingga mengancam persatuan.

Dalam kondisi yang penuh kemelut tersebut, Bapak Proklamator itu tak hanya mencari solusi politis, melainkan memilih bersilaturahmi kepada salah satu ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) H. Abdul Wahab Chasbullah untuk meminta nasihat spiritual.

Dari pertemuan empat mata itulah lahir sebuah gagasan jenius. Atas saran Mbah Wahab, Bung Karno mencetuskan istilah “Halalun bi Halalin” sebagai sebuah forum untuk mempertemukan para tokoh yang berseteru dalam suasana yang cair dan saling memaafkan.

Akhirnya pada tahun 1948, tradisi Halal Bi Halal pun digelar untuk pertama kalinya di Istana Negara atas ide Bung Karno. “Bung Karno ketika pusing datangnya ke kiai,  munculah kata halalun bi halalin. Ini murni dari Indonesia dan sekarang halal bihalal bukan hanya milik muslim, tapi sudah jadi identitas Indonesia,” ujarnya saat Halal Bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrila, Minggu (12/4/2026).

Tak hanya di dalam negeri. Azwar Anas menyebut, jejak kepedulian Putra sang Fajar –julukan Bung Karno–,  terhadap dunia Islam juga membentang hingga ke Timur Tengah.

Sebuah fakta sejarah mencatat bahwa Bung Karno pernah melakukan intervensi diplomatik untuk mencegah Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, menutup Universitas Al-Azhar. Bung Karno membela keberadaan institusi legendaris tersebut dengan alasan bahwa Al-Azhar adalah wadah belajar yang sangat penting bagi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Alhasil hubungan diplomatik itu membuahkan hasil berupa program beasiswa yang terus ada untuk anak-anak Indonesia ke Universitas Al-Azhar. “Dukungan Bung Karno pada Islam adalah nyata,” ujarnya.

Dukungan nyata Bung Karno terhadap Islam inilah yang kemudian menjadi inspirasi kemerdekaan bagi negara-negara seperti Tunisia dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Bung Karno membuktikan bahwa semangat kebangsaan dan nilai keagamaan dapat dipadukan menjadi kekuatan revolusioner yang diakui dunia.

Kini, manifestasi nilai-nilai religiusitas Bung Karno tersebut terus dijaga dan diteruskan, salah satunya oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Melalui langkah-langkah diplomatik seperti memberikan ucapan selamat maupun duka cita kepada pemimpin negara seperti Iran.

Ia melanjutkan wujud nyata dukungan terhadap kemerdekaan dan persaudaraan di Timur Tengah yang telah dirintis sang ayah. “Sejarah mencatat bahwa bagi Bung Karno, agama bukanlah sekadar label, melainkan napas dalam perjuangan diplomatik dan persatuan bangsa,” pungkasnya. (hk/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.