Sepi Order Pijat, Disabilitas Kediri Bentuk Grup Band

Yovie Wicaksono - 20 August 2020
Penampilan personel Santaro ketika berlatih musik. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Pandemi Covid-19 membuat berbagai kalangan melakukan ragam inovasi. Tidak terkecuali para disabilitas di kota Kediri yang berprofesi juru pijat. Mereka membentuk grup band bernama Santaro, yang memiliki arti kepanjangan dari Pesantren, Kota dan Mojoroto, nama tiga kecamatan di Kota Kediri.

Pandu, disabilitas tuna netra yang menjadi personel grup band mengatakan, Santaro terbentuk sejak tujuh bulan lalu dan difasilitasi Dinas Sosial kota Kedir dalam bentuk prasarana tempat, keyboard dan sound system. Sementara untuk alat musik lainnya seperti gitar, biola, dan drum, Pandu dan rekan-rekannya membawa sendiri dari rumah.

Jumlah penyandang disabilitas yang ikut berlatih musik secara rutin ada sekitar 10 orang. Pada umumnya mereka ini adalah tuna netra dan grahita. Jenis musik yang dimainkan mulai pop, rock, reggae dan lainnya.

Untuk terus  mengasah kemampuan bermusik mereka, pihak Dinas Sosial kemudian menggandeng Wahyu, instruktur musik di Kediri . ” Awalnya saya nggak tau harus bagaimana. Terus setelah saya melihat dan mendengar mereka bermain musik, ternyata diluar dugaan, ternyata sangat bagus,” katanya.

Dalam melatih, Wahyu tinggal memberikan motivasi kepada mereka agar selalu kompak, karena personel Santaro memiliki kemampuan dalam bermain musik.

Sejak mulai dibentuk tujuh bulan lalu,  Santaro sudah pentas dua kali. Seperti saat peringatan Hari Disabilitas Internasional di Gedung  Nasional Indonesia (GNI) beberapa waktu lalu serta di salah satu toko pusat perbelanjaan.

Super Radio sempat melihat penampilan personel Santaro ketika berlatih musik. Kualitas skill mereka dalam memainkan tempo irama, tidak kalah dengan grup band lainnya. Bahkan  salah satu diantaranya bisa bermain dua alat musik, gitar dan biola.

“Sebenarnya, ada yang masih berusia 12 tahun, pandai bermain keyboard. Tapi yang bersangkutan, kita arahkan dulu fokus ke sekolah,” ujar Wahyu.

Staff Rehabilitasi Dinas Sosial Kota Kediri Zelus mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah mempunyai rencana tampil di Malang dan Tulungagung. Namun dibatalkan karena pandemi Covid-19.

“Kemarin sebenarnya kita punya rencana sebelum pandemi, kebetulan Pandu dapat Channel di Malang.  Rencana waktu itu bulan April. Terus ada acara pembukaan Perumahan di Tulungagung pada Juni – Juli dan road to cafe. Semuanya gagal karena pandemi,” ujarnya.

Zelus menjelaskan, selama ini Dinas Sosial memfasilitasi salah satu ruangan kantor untuk dijadikan tempat praktik pijat yang kemudian disulap menjadi studio musik.

Meski begitu, terkadang personel Santaro berlatih musik di luar kantor Dinas Sosial. Untuk biaya, biasanya mereka patungan secara swadaya. ” Sewa studio musik antara 50 ribu sampai 100 ribu. Hasil dari tampil di luar, uang dimasukan kas. Sebagian digunakan untuk biaya latihan,” kata Zelus. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.