Saatnya Mengubah Stigma Buruk tentang Kesehatan Reproduksi Penyandang Disabilitas

Yovie Wicaksono - 27 January 2024
Ilustrasi. Foto : (Shutterstock)

SR,Surabaya – Pandangan masyarakat tentang penyandang disabilitas seringkali tidak tepat. Salah satunya tentang anggapan penyandang disabilitas adalah individu tanpa kehidupan seksual.

Pandangan yang keliru ini seringkali juga membuat penyandang disabilitas dinilai tidak mampu bereproduksi dan mengurus anak. Ada juga beberapa kasus yang menggambarkan keraguan masyarakat terhadap kemampuan perempuan penyandang disabilitas mengurus bayi dan kehamilannya sendiri.

Akibatnya, beberapa perempuan disabilitas terpaksa dipisahkan dari pasangannya yang juga penyandang disabilitas. Sebagian lain ada yang dilarang atau dianjurkan untuk tidak hamil. Ada juga yang langsung dipisahkan dengan bayi mereka pasca melahirkan, lantaran dianggap tidak cakap mengurus keluarga.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Joanne Neille terhadap 30 penyandang disabilitas dewasa di pedesaan Afrika Selatan, mitos dan stereotip yang salah mengenai kehidupan seksual penyandang disabilitas memberikan dampak buruk bagi kehidupan serta identitas disabilitas.

Tidak saja secara sosial, stigma seksualitas dan reproduksi juga memberikan dampak lanjutan dalam kehidupan sosial penyandang disabilitas. Seperti perceraian yang bukan keputusan disabilitas, penurunan kesehatan, masalah ekonomi hingga penurunan kualitas hidup.

“Seksualitas sering menjadi sumber penindasan terdalam bagi seorang individu, seringkali pula menjadi sumber rasa sakit yang terdalam. Sangat mudah bagi seorang pada umumnya untuk merumuskan strategi mengubah diskriminasi dalam bidang pendidikan, perumahan maupun pekerjaan daripada berbicara tentang pengecualian pada seksualitas dan reproduksi,” tulis Naille, seperti yang dikutip dalam bukunya Deconstructing Mutually Exclusive Constructs, yang diterbitkan pada 2018.

Di kalangan masyarakat, larangan hamil bagi perempuan disabilitas mental dilakukan secara sistematis. Misalnya, petugas kesehatan memberikan suntikan anti kehamilan tanpa sepengetahuan perempuan disabilitas mental.

Hal-hal semacam ini harusnya tidak lagi terjadi, jika masyarakat memahami dan tidak memandang penyandang disabilitas sebagai sosok yang lemah dan tak berdaya.

Sudah saatnya cara pandang tersebut diubah, apalagi penyandang disabilitas juga memiliki hak hidup yang sama seperti masyarakat pada umumnya. (*/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.