Dukung Kampus Bebas Kekerasan Seksual, Unair Siap Dampingi Penyintas

Yovie Wicaksono - 5 January 2022
Ilustrasi

SR, Surabaya – Kekerasan seksual di lingkup kampus tengah menjadi buah bibir di masyarakat. Satu-persatu kasus yang muncul membuktikan bahwa masih banyak penyintas yang enggan melaporkan kejadian tersebut. Alasannya beragam, mulai dari tekanan oleh lingkungan sekitar, hingga ancaman dari pelaku yang memiliki kekuasaan lebih tinggi.

Melalui tim pendamping yang telah dibentuk berdasarkan Permendikbud No.30 tahun 2021, penyintas tak perlu ragu untuk melaporkan pelaku. Pada lingkup Universitas Airlangga (Unair), penyintas dapat menghubungi Help Center Unair sebagai lembaga pendamping melalui instagram @help_centerunair, telepon Whatsapp di 081615507016, atau dengan mendatangi kantor administrasi Help Center Unair yang terletak di gedung Student Center lantai satu, kampus C Unair Surabaya. Sebelum ditunjuk sebagai lembaga pendamping, Help Center Unair sudah berpengalaman menjadi konselor bagi mahasiswa.

Penyintas dapat menceritakan kejadian yang terjadi, dengan juga  membawa bukti-bukti yang mendukung. “Walaupun kejadiannya sudah lama, bukti-buktinya harap disimpan, karena akan sangat membantu untuk prosesnya,” ujar ketua Help Center Unair, Liestianingsih D. Dayanti.

Setelah laporan diterima, akan ada konselor yang mendampingi penyintas dan memastikan kesehatan mental penyintas dalam kondisi yang baik. 

“Bila perlu, penyintas yang memiliki ketakutan atau gangguan kecemasan akan dirujuk ke psikolog, rumah shelter, ataupun tempat pelayanan medis lainnya,” sebutnya.

Tim pendamping akan memeriksa laporan, sekaligus mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung adanya kejadian tersebut. “Sebab jangan sampai penyintas dirugikan dengan tuduhan pencemaran nama baik oleh pelaku,” jelasnya.

Help Center Unair juga memfasilitasi adanya perlindungan bagi identitas penyintas, sehingga penyintas tak perlu takut identitasnya terbongkar saat melaporkan pelaku. 

“Kami memakai kode etik konselor, sehingga identitas pelapor tidak akan terbongkar. Kami juga memfasilitasi yang bersangkutan, apakah keluarga ingin kami yang memberitahu? atau kalau tidak mau, ya tidak kami hubungi,” katanya.

Lies juga menyadari, bermacam-macam keadaan psikologi penyintas dapat membuat mereka takut untuk speak up. “Memang kami tidak bisa mengintervensi, tapi kami berharap Help Center dapat dimanfaatkan secara optimal, mungkin melalui temannya dapat membantu melaporkan kepada kami,” ujarnya.

Lies berharap, melalui dukungan semua unsur kampus dapat menciptakan lingkungan kampus yang aman, sehat, serta bebas dari kekerasan seksual. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.