Rocky dan Hasto Ibaratkan Mangrove Wonorejo Benteng Hidup dari Tsunami

Rudy Hartono - 18 January 2026
Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto (2 dari kanan) dan pengamat politik Rocky Gerung (3 dari kiri) usai menanam bibit mangrove di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya, Sabtu (17/1/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya –  Sabtu 17 Januari 2026, udara di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya terasa lembap namun segar. Embun masih menempel di daun-daun muda, sementara suara burung bercampur dengan riuh rendah kader Banteng yang bersiap menanam ribuan bibit mangrove.

“Ini adalah kelanjutan dari Rakernas (Rapat Kerja  Nasional PDI Perjuangan 10-12 Januari 2026 –Red) tentang politik ekologi merawat Pertiwi, penghijauan. Kita bayangkan sekiranya seluruh wilayah pantai dilindungi mangrove,  ini kan jadi benteng hidup dari tsunami, benteng hidup yang sangat kokoh. Ini (hutan mangrove –Red) juga menghasilkan oksigen,” kata Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDI Perjuangan usai ikut aksi tanam pohon mangrove.

Di tengah kerumunan, Hasto berdiri dengan senyum lebar. Tangannya kotor oleh tanah, namun wajahnya memancarkan kebanggaan.

“Jika di Jakarta ada Giant Sea Wall, maka Surabaya punya Mangrove Sea Wall yang efektif menjadi benteng abrasi, mencegah tsunami, bahkan punya nilai ekonomi untuk masyarakat setempat,” tambahnya.

Hasto juga menyoroti kiprah Tri Rismaharini atau akrab disapa Risma, yang selama dua periode memimpin Surabaya sebagai Wali Kota, memiliki kepekaan terhadap potensi bencana. Baginya, Risma adalah ikon perubahan lingkungan, membuktikan bahwa tata kota bisa menjadi simbol peradaban. Trotoar, taman kota, hingga wisata ekologi mangrove adalah indikator nyata.

“Ini Bu Risma jadi ikon, bagaimana perencanaan tata kota jadi simbol peradaban. Indikasinya sederhana, lihatlah  trotoarnya bagus, ada taman kota, perpustakaan itu cermin peradaban yang penting. Ini dijalankan dengan politik berdasarkan nilai kemanusiaan,” paparnya.

Mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini temani pengamat politik Rocky Gerung mengelilingi areal Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya, Sabtu (17/1/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

Tak jauh dari Hasto, berdiri pengamat politik Rocky Gerung yang juga usai menanam  bibit mangrove. Sambil mengusap peluh, Rocky  mengapresiasi langkah PDI Perjuangan yang membuktikan kepedulian lingkungan bukan sekadar retorika. “PDI Perjuangan mampu membuktikan bahwa politik dan lingkungan adalah kombinasi yang tak bisa dipisahkan,” ucap akademisi yang dikenal kritis dalam diskusi atau debat itu.

Rocky menilai bahwa pemimpin sejati lahir dari kepedulian terhadap ekosistem. Ia melihat aksi tanam mangrove sebagai wujud politik yang merakyat, hadir bersama rakyat. Baginya, politik ekologi adalah politik yang hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar wacana.

“Pemimpin itu dimulai dari situ. Lewat mangrove ini, Bu Risma berhasil  menurunkan ‘tekanan darah’ dari Surabaya yang tiap hari panas. Itu fungsi dari kebudayaan, merakyat dan tiba bersama rakyat,” imbuhnya.

Atas kerja keras membangun tempat wisata lingkungan di Mangrove Wonorejo,  Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menegaskan komitmennya menjaga kebijakan lingkungan yang telah dibangun Risma. “Pondasinya sudah dibangun, tinggal interiornya saja dan sudah kami lengkapi ada tempat souvenir dan kuliner di lingkungan Mangrove Wonorejo,” kata Armuji.

Wakil Wali Kota Surabaya Armuji (2 dari kiri) iringi mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan pengamat politik Rocky Gerung menikmati keasrian Taman Harmoni Surabaya, Sabtu (17/1/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

Usai keliling hutan mangrove dan menanam bibit mangrove, rombongan Rocky Gerung dan Risma beranjak ke Taman Harmoni Surabaya. Di sinil Rocky kembali dibuat kagum. Bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) disulap menjadi taman yang indah.

“Setelah dari Taman Mangrove yang sangat berguna menghasilkan ekosistem, saya diperkenalkan ke sebuah taman seluas 8,5 hektare yang tadinya tempat pembuangan sampah,” ungkap Rocky.

Melihat taman itu, mau tidak mau Rocky memuji apa yang telah dilakukan Risma. “Saya sekarang menjadi paham dengan julukan ‘Risma Gila Taman’, yang maknanya positif. Risma sangat paham apa yang dibutuhkan warganya. Risma juga menjadi psikolog yang mengerti bahwa fungsi taman sangat penting untuk kestabilan suasana hati manusia,” tutur Rocky.

Data Dinas Lingkungan Hidup mencatat hingga 2023 terdapat 949 taman aktif di Surabaya. Jumlah ini terus meningkat seiring pembangunan di berbagai wilayah. Rocky menilai, banyaknya ruang terbuka hijau menunjukkan Surabaya sebagai kota ideal.

Suasana pun terasa hangat, penuh harapan, seolah Surabaya sedang menulis bab baru peradaban lewat akar mangrove dan bunga taman. (js/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.