Bagaimana Cara Membentuk Karakter Anak? Ini Penjelasannya
SR,Mojokerto – Kasus kekerasan dalam keluarga yang berujung kematian orang tua ditangan anak kandung sendiri, adalah fenomena yang kerap kali dijumpai. Terakhir adalah anak yang tega membunuh ibu kandungnya sendiri.
Dokter spesialis kejiwaan, dr. Ina Dewi Andriyani, Sp.KJ, mengatakan, penyebab dari fenomena tersebut memiliki banyak faktor.
Khusus, pada kasus di Medan diduga penyebabnya adalah menumpuknya emosi sang anak yang tidak bisa terkontrol dan dampak dari tontonan di gadget.
“Pada kasus anak yang membunuh ibu kandungnya di Medan, diduga hingga saat ini penyebabnya adalah penumpukan emosi sang anak yang melihat keluarganya disakiti berulang kali oleh sang ibu. Selain itu, sang anak juga sering bermain permainan online yang diduga terdapat konten kekerasan,” ujar dr. Ina, kepada Super Radio, Kamis (16/01/2026).

Diduga, ibu melakukan kekerasan dalam rumah tangga sejak tiga tahun terakhir, saat rumah tangganya mulai tidak harmonis. Anak melihat langsung kekerasan yang dilakukan ibu kepada kakak dan ayahnya. Sehingga memunculkan rasa tidak nyaman di dirinya, mulai dari marah, sedih, sakit hati, dan rasa kecewa.
“Dilihat dari struktur keluarganya sudah tidak sehat, di mana anggota keluarga saling menyakiti secara fisik, mental, atau emosional melalui perilaku sehingga memunculkan rasa marah, kecewa, sedih, dan sakit hati. Dari penumpukan emosi itulah, sang anak tidak mampu mengendalikan emosinya, sehingga terjadilah kasus pembunuhan itu,” jelas dokter yang menjadi anggota Organisasi PDSKJI (Profesi Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) Indonesia).
Selain itu, anak juga menonton tayangan yang berkaitan dengan kekerasan atau kesadisan, seperti di game online dan anime. Sehingga dari situ, dia mendapatkan contoh untuk mengekspresikan kekecewaannya dengan melakukan kekerasan kepada ibunya.
“Pada anak berusia 12 tahun, fungsi otak anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga anak seringkali belum bisa memutuskan mana yang baik dan buruk,” imbuhnya.
Dikatakan, anak berusia 12 tahun belum memiliki fungsi otak yang optimal, sehingga belum bisa mengendalikan emosinya, serta belum bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Terlebih untuk mengetahui konsekuensi apa yang akan timbul. Mereka hanya bisa merasakan apa yang dirasakan dan mengekspresikannya tanpa memikirkan konsekuensinya.
Untuk mencegah semakin banyak kasus serupa, maka para orang tua diharapkan untuk mengawasi anaknya dalam mengakses internet dan lebih peka terhadap perilaku dan sikap si anak, seperti adanya gangguan tidur, lebih sering murung dan menyendiri, tidak mau makan, dan lain sebagainya.
Selain itu, orang tua harus segera menyelesaikan traumanya terlebih dahulu karena dapat berimbas ke orang lain, seperti melampiaskan kekesalan ke anak sehingga bisa menjadi contoh yang buruk baginya.
Orang tua juga harus belajar terkait bagaimana cara mendampingi anak yang sesuai dengan karakter mereka sehingga bisa meningkatkan potensi yang ada pada anak. (fa/red)
Tags: Anak bunuh ibu kandung, Ina Dewi Andriyani, KDRT, Kekerasan dalam rumah tangga, Penyebab kdrt, Spesialis Kedokteran Jiwa, Spesialis kejiwaan
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





