Lima Pelukis Underground Tampilkan Lukisan Kontemporer Kreatif di Hotel Artotel Surabaya

Rudy Hartono - 23 January 2026
Karya unik dari Septian Adi Perdana, lukisan kontemporer yang memasukkan bahan dakron ke dalam lukisan sehingga menciptakan efek timbul yang tak biasa pada seni rupa, di Artspace, Artotel TS Suites Surabaya, Jumat (23/1/2026) sore. (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya, pojok galeri Artotel TS Suites Surabaya hadirkan 26 lukisan kontemporer, kreatif dan inovatif bertajuk “Hidden Potion”, Jumat (23/1/2026) sore.

Bak sebuah laboratorium visual yang magis, Artspace yang berada di lantai UG Artotel TS Suites menjadi panggung bagi lima pelukis yang berbeda aliran dan karakter memamerkan karyanya.  Kelima pelukis itu: Ahmad Fahrizal Irsadi, Septian Adi Perdana, Izzar Fakhruddin, Putri Setyowati, dan Yotandh.

Kelimanya membawa karakter yang kontras namun harmonis, menciptakan dialog estetika yang segar bagi ekosistem seni rupa di Jawa Timur. Setiap goresan dan medium yang digunakan seolah menjadi pintu masuk menuju memori, isu sosial, hingga refleksi harian para seniman.

Salah satu karya lukisan kontemporer dari lima pelukis underground di Artspace, Artotel TS Suites Surabaya, Jumat (23/1/2026) sore. (foto: vico wildan/superradio.id)

Eksplorasi medium menjadi daya tarik utama yang memicu rasa penasaran pengunjung. Salah satu yang mencuri perhatian adalah karya Septian Adi Perdana yang menggunakan dakron di dalam jahitan lukisannya untuk menciptakan efek timbul yang tak biasa.

Rahma Tussofiyah, sang penulis pameran, mencatat bagaimana batasan aliran kini mulai melebur di tangan para seniman muda ini. “Karya-karya yang ditampilkan mencakup berbagai aliran yang saling berbaur, sehingga tidak terbatas pada satu aliran klasik seperti naturalis atau kubisme saja,” tuturnya.

Ditambahkan Rahma, sebagai penulis, dia  bertugas merajut ide-ide yang seringkali muncul secara terfragmentasi dari para seniman agar seni rupa kontemporer mudah dipahami pengunjung awam. “Saya sebagai penulis itu perannya untuk merajut kata-kata ini menjadi satu kesatuan. Jadi ketika orang baca itu jadi tahu konteksnya ketika datang ke pameran,” jelas Rahma

Penulis sekaligus kurator Rahma Tussofiyah (tengah) dan pelukis Yotandh (kanan) saat berdialog dengan pengunjung pameran pemeran lukisan di Artspace, Artotel TS Suites Surabaya, Jumat (23/1/2026) sore. (foto: vico wildan/superradio.id)

Terkait tema pameran, pelukis Yotandh memaparkan “Hidden Potion” terjemahan dari  “ramuan tersembunyi”.  Dijelaskan, istilah ini merujuk pada formula visual unik yang dimiliki setiap kreator dalam meramu ide menjadi karya. “Sedangkan  ‘hidden’,   merefleksikan sisi profil paraseniman yang bergerak di jalur underground (cenderung tidak tampil di pameran konvensional) namun memiliki kualitas visual yang mumpuni,”ungkap Yotandh.

Sementara itu, Arif Romadhon, mewakili pihak manajemen Hotel Artotel, menegaskan komitmen manajemen Artotel selalu mendukung kegiatan seniman dengan mengalokasikan tempat yang representatif. “Kami ingin jadikan Artotel sebagai wadah strategis bagi ekosistem kreatif Surabaya. Kami berkeras konsisten menggelar pameran rutin setiap tiga bulan sekali dengan sistem bagi hasil yang adil bagi para seniman,” ujar Arif. (js/red)

 

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.