Hompimpa Alaihum Gambreng Permainan Rakyat yang Sarat Nilai
SR, Surabaya – “Hompimpa alaihum gambreng” merupakan kalimat yang sangat akrab di telinga anak-anak Indonesia setiap kali akan memulai permainan tradisional seperti petak umpet, gobak sodor, atau kucing-kucingan.
Dilansir dari laman era.id, ungkapan ini biasanya diucapkan oleh minimal tiga anak sambil mengayunkan tangan ke kanan dan kiri, lalu menunjukkan telapak tangan ke atas atau ke bawah untuk menentukan giliran atau “pemenang” secara adil sebelum permainan berlangsung. Kalimat tersebut telah melekat dalam budaya permainan anak di Nusantara sejak lama.
“Hompimpa alaihum gambreng digunakan anak-anak sebagai cara menentukan giliran bermain secara adil,” tulis laman resmi era.id.
Menurut sejumlah sumber budaya permainan anak di Indonesia, frase “Hompimpa alaihum gambreng” berasal dari bahasa Sansekerta dan secara harfiah mengandung makna religius, yakni “dari Tuhan kembali kepada Tuhan, mari kita bermain.” Makna ini mencerminkan keyakinan bahwa dalam setiap aktivitas termasuk bermain manusia pada akhirnya berasal dari dan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam praktiknya, lagu atau mantra ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pengocok undian antar anak, tetapi juga disoroti oleh para pendidik sebagai bagian dari pembelajaran karakter. Artikel akademik yang dipublikasikan oleh Indonesian Journal of Research and Educational Review menyebutkan bahwa permainan Hompimpa Alaihum Gambreng dapat membantu mengembangkan karakter religius dan kejujuran pada siswa sekolah dasar, karena anak-anak belajar menghormati proses permainan dan menerima hasil secara adil.
Selain itu, studi lain yang diterbitkan di Jurnal Smart Society ADPERTISI menjelaskan bahwa permainan tradisional seperti Hompimpa memiliki makna simbolik yang erat kaitannya dengan pendidikan karakter anak, termasuk nilai kebersamaan serta penghargaan terhadap aturan main yang telah disepakati bersama.
“Permainan tradisional Hompimpa mengandung nilai simbolik yang mendukung pendidikan karakter anak,” tulis laman resmi jurnal.adpertisi.or.id.
Ungkapan ini juga semakin populer di Indonesia melalui media massa, termasuk serial anak “Si Unyil” yang tayang di TVRI pada era 1980-an hingga 1990-an. Tayangan tersebut turut memperkenalkan berbagai permainan tradisional kepada generasi muda di berbagai daerah di Indonesia.
Meski begitu, para peneliti budaya menyebut belum ada literatur sejarah formal yang secara pasti mencatat kapan dan bagaimana kalimat ini pertama kali muncul. Beberapa penggiat budaya melihat Hompimpa sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga makna dan cara penggunaannya dapat berbeda di setiap daerah.
Saat ini, permainan Hompimpa masih digunakan oleh anak-anak di berbagai wilayah Indonesia, meskipun mulai tergerus oleh permainan digital. Namun, praktik ini tetap dipandang sebagai sarana sederhana untuk memperkenalkan nilai-nilai sosial dasar dan pendidikan karakter kepada generasi muda sejak usia dini. (*/rri/red)
Tags: hompimpa, permainan anak, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





