Ascott Waterplace Surabaya Peduli Pengelolaan Limbah Rumah Tangga
SR, Surabaya — Memperingati World Environmental Education Day atau Hari Pendidikan Lingkungan Sedunia, 26 Januari 2026 , Ascott Waterplace Surabaya memfasilitasi puluhan UMKM bertemu dan berdialog dengan aktivis lingkungan, praktisi dan dunia usaha perihal kemajuan program lingkungan hingga pengelolaan limbah rumah tangga.
Co founder Nol Sampah, Hanie Ismail menyebut sekitar 56% lebih sampah yang dihasilkan kebanyakan dari rumah tangga, kemudian disusul oleh sampah dari Pasar sebanyak 13%. Salah satu penyumbang sampah rumah tangga adalah minyak jelantah.
“Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber menyatakan setidaknya ada 6,6 juta kiloliter minyak yang berakhir sebagai limbah minyak jelantah. Sehingga partisipasi aktif dari masyarakat diperlukan agar dapat mengurangi limbah dapat dilakukan secara mandiri dari akar rumput,” ungkap Hanie di acara program “Art & Craft Take Over” salah satu program pemberdayaan UMKM di Ascott Waterplace Surabaya.
Masalah minyak jelantah direspons positif Wahyu Oktorianto, Ketua Kampung Sambiarum. Menurutnya minyak jelantah bisa didaur ulang menjadi barang lain, lilin minyak jelantah, yang bernilai ekonomis. “Untuk membuat lilin dari minyak jelantah sangatlah mudah. Lagi pula lilin yang diproduksi bernilai ekonomis,” kata Wahyu sekaligus instruktur pembuatan lilin dari minyak jelantah
Dijelaskan bahwa pembuatan lilin hanya perlu dibersihkan dengan melalui proses penyaringan dengan merendam arang, lalu mencampurkan minyak yang sudah bersih dengan bahan pemadat seperti stearic acid (sterin) atau palm wax, keduanya lalu dicampur hingga larut. “Proses pembuatan lilin minyak jelantah mandiri ini selain fleksibel, kita juga bisa menambahkan minyak esensial, sehingga bisa menjadi lilin aroma terapi, seperti pada lilin kali ini yang kita campur dengan minyak esensial Young Living” ujarnya sumringah .
Selain minyak jelantah, limbah rumah tangga lainnya adalah limbah pakaian. Untuk limbah pakaian, perusahaan Klinko Karya Imaji, sudah lama memproduksi aneka tas cantik dari bahan pakaian bekas.
Sementara itu Young Living menjadi pelopor bisnis berbasis bahan alam dengan proses pengolahan yang ramah lingkungan. Young Living menerapkan berbagai proses produksi mulai dari pembibitan, penanaman dan pengemasan yang ramah lingkungan, melibatkan komunitas lokal dan berbasis ekologi.
Putri Panca yang menjadi perwakilan Young Living Indonesia menuturkan bahwa tujuan dari acara ini selaras dengan apa yang ingin dicapai Young Living, yaitu menumbuhkan kesadaran akan pertumbuhan ekonomi yang berbasis lingkungan dan dapat berdampak pada komunitas.
“Acara ini sekaligus menjadi bukti bahwa apa yang dihasilkan alam, dapat kita olah kembali menjadi sesuatu yang berharga, selaras dengan apa yang Young Living percaya selama ini” ujar Putri Panca
Atas terselenggaranya dialog lingkungan ini, Handrian Wijaya – General Manager Ascott Waterplace Surabaya mengatakan bahwa pihaknya konsisten menerapkan 5 pilar keberlanjutan yang disebut sebagai Ascott CARES, yaitu Community, Alliance, Respect, Environment dan Supply Chain. Bahkan sejak 2022, Ascott telah aktif dalam hal pemberdayaan masyarakat dan sustainability.
“Ascott CARES menjadi pedoman bagi kami untuk terus berkomitmen dalam pemberdayaan masyarakat, lingkungan tanpa meninggalkan esensi dari pembangunan ekonomi” ujarnya disela-sela acara. (*/red)
Tags: ascott waterplace surabaya, limbah rumah tangga, nol sampah, superradio.id, world environmental education day
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





