Kelompok Disabilitas Nonfisik Sangat Sering Diabaikan Pemerintah
SR, Surabaya – Kesadaran masyarakat terhadap penyandang disabilitas sering kali masih terbatas pada hambatan fisik yang kasatmata, seperti pengguna kursi roda atau tongkat tunanetra. Padahal, terdapat spektrum luas yang disebut sebagai invisible disabilities atau disabilitas tak terlihat—seperti autoimun, ADHD, autisme, hingga gangguan kesehatan mental kronis—yang sering kali luput dari kebijakan fasilitas publik dan empati sosial karena pengidapnya tampak “sehat” secara visual.
Ketidaktampakan ini menjadi pedang bermata dua; di satu sisi mereka tidak mendapatkan stigma fisik secara langsung, namun di sisi lain, mereka terus-menerus dicurigai atau dianggap malas saat memerlukan akomodasi khusus. Masalah utama yang muncul adalah standarisasi “normalitas” yang kaku di ruang publik dan dunia kerja, yang memaksa individu dengan disabilitas tak terlihat untuk terus-menerus melakukan pembuktian atas kondisi mereka.
Berdasarkan informasi dari Invisible Disabilities Association (IDA), kategori disabilitas tak terlihat mencakup kondisi fisik, mental, atau neurologis yang membatasi gerakan, indra, atau aktivitas seseorang namun tidak terlihat dari luar. Hal ini menciptakan tantangan psikologis yang besar karena mereka sering dianggap “berpura-pura” sakit hanya karena tidak menggunakan alat bantu fisik. Kurangnya pengakuan ini menyebabkan akses terhadap hakhak dasar, seperti waktu istirahat tambahan atau pengaturan cahaya di kantor bagi penderita migrain kronis, menjadi sangat sulit didapatkan.

Urgensi mengenai hak-hak ini juga ditekankan dalam lingkup profesional. Berdasarkan tinjauan dari Harvard Business Review, kegagalan perusahaan dalam mengakomodasi disabilitas tak terlihat sering kali berakar pada ketidaktahuan manajerial. Banyak karyawan memilih untuk menyembunyikan kondisi mereka karena takut akan diskriminasi atau dianggap tidak kompeten, yang pada akhirnya justru menurunkan produktivitas dan kesejahteraan mental mereka. Padahal, penyesuaian sederhana dalam lingkungan kerja dapat menjadi kunci inklusi yang sesungguhnya.
Secara global, pengakuan terhadap hak kelompok ini telah menjadi perhatian serius lembaga kesehatan dunia. Berdasarkan laporan dari website resmi World Health Organization (WHO), disabilitas merupakan hasil interaksi antara kondisi kesehatan individu dengan faktor lingkungan yang tidak mendukung. Dalam konteks disabilitas tak terlihat, lingkungan yang “tidak mendukung” sering kali berbentuk stigma sosial dan ketiadaan kebijakan inklusif yang mengakui bahwa hambatan fungsi tubuh tidak selalu harus terlihat secara fisik untuk dianggap valid.

Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma dari sekadar menyediakan fasilitas fisik (seperti ram) menuju inklusi yang berbasis pada pemahaman kebutuhan fungsional individu.
Tanpa pengakuan terhadap disabilitas yang tak terlihat, visi masyarakat inklusif hanya akan menjadi slogan yang mengesampingkan jutaan orang yang berjuang dalam sunyi di balik penampilan yang terlihat normal. (*/dv/red)
Tags: adhd, autoimun, invisible disabilities, superradio.id, tak terlihat
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





