Inspiration Porn, Pujian Kosong Bisa Berbalik Rugikan Penyandang Disabilitas

Rudy Hartono - 24 January 2026
Ilustrasi - Cara salah memandang penyandang disabilitas

 SR, Surabaya – Di era media sosial, sering kali warga terpapar konten yang menampilkan penyandang disabilitas melakukan aktivitas biasa—seperti berolahraga atau bekerja—dengan takarir (caption) yang mendikte audiens untuk merasa malu jika mereka tidak bersyukur.

Fenomena ini dikenal sebagai inspiration porn, sebuah istilah yang merujuk pada objektifikasi penyandang disabilitas semata-mata untuk memuaskan kebutuhan inspirasi bagi orang non-disabilitas. Masalah utama dari narasi ini adalah bahwa ia tidak memandang penyandang disabilitas sebagai manusia yang utuh, melainkan sebagai alat untuk membangkitkan semangat orang lain.

Ketika masyarakat menyebut kegiatan normal penyandang disabilitas sebagai sesuatu yang “luar biasa”, mereka secara tidak sadar sedang merendahkan standar kompetensi individu tersebut. Perspektif yang harus ditekankan adalah bahwa keberadaan penyandang disabilitas bukan untuk menjadi “bahan renungan” bagi orang lain, melainkan untuk memiliki hak dan kesempatan yang setara tanpa harus terus-menerus dianggap sebagai pahlawan hanya karena mereka hidup dengan disabilitas.

Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Wikipedia, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh aktivis Stella Young. Analogi “pornografi” digunakan secara sengaja karena adanya pola objektifikasi terhadap satu kelompok orang (penyandang disabilitas) demi keuntungan atau kepuasan emosional kelompok lain.

Konten jenis ini sering kali dianggap sebagai bentuk ableism karena menggambarkan disabilitas sebagai beban yang harus dikalahkan melalui keteguhan hati individu, bukan sebagai masalah sistemik yang membutuhkan perbaikan kebijakan publik.

Dampak buruk dari narasi ini juga disorot oleh organisasi Disability Belongs. Berdasarkan artikel resminya, inspiration porn justru mengasingkan penyandang disabilitas dari realitas sosial. Alih-alih membantu, narasi ini menciptakan ekspektasi yang tidak realistis di mana mereka selalu dituntut untuk bersikap ceria dan inspiratif.

Hal ini menutupi masalah yang lebih nyata, yaitu hambatan aksesibilitas dan diskriminasi yang mereka hadapi setiap hari. Alih-alih memberikan dukungan nyata, masyarakat sering kali hanya memberikan “pujian kosong” yang justru mengukuhkan stigma bahwa penyandang disabilitas adalah sosok yang “kurang” dan membutuhkan belas kasihan.

Untuk menghindari jebakan narasi ini, diperlukan perubahan cara pandang yang mendasar. Berdasarkan ulasan di Forbes, langkah utama untuk menghentikan inspiration porn adalah dengan berhenti menganggap aktivitas sehari-hari penyandang disabilitas sebagai prestasi yang luar biasa. Media dan masyarakat harus mulai fokus pada pencapaian yang bersifat substansial dan mendukung advokasi yang menuntut hak asasi manusia, bukan sekadar membagikan meme atau video yang mengeksploitasi perjuangan fisik mereka.

Solusinya adalah melihat disabilitas sebagai bagian dari keberagaman manusia yang wajar, bukan sebuah tragedi yang harus selalu dipoles menjadi kisah motivasi.

Dengan mengakhiri praktik inspiration porn, berarti memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk diakui berdasarkan bakat, kompetensi, dan kepribadian mereka secara autentik. Inklusi sejati tidak butuh tepuk tangan untuk hal-hal yang biasa, melainkan butuh komitmen untuk menghancurkan tembok hambatan sistemik yang selama ini membatasi mereka. (*/dv/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.