Hadrah, Barongsai hingga Jaranan Meriahkan Haul Gus Dur di Joko Dolog Surabaya
SR, Surabaya – Gelaran peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Surabaya berlangsung unik dan meriah, Rabu (28/1/2026). Berlokasi di areal Arca Joko Dolog, acara tak sekadar seremoni, tapi juga membawa semangat Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme.
Haul diselenggarakan hasil kolaborasi Gerakan Gusdurian (Gerdu) Surabaya dan Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog. Tema yang diusung “Ekspresi Ragam Budaya”berisi beragam kegiatan. Diawali Khotmil Quran, penyembuhan tradisional, hingga jaranan dan talkshow kebudayaan bersama para pakar.
Bukan tanpa alasan. Koordinator Gusdurian Surabaya, Ike Nurjanah menyebut, tema itu sengaja dipilih untuk membangkitkan semangat pluralisme Gus Dur. “Sepanjang hidupnya Gus Dur konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi antarumat beragama, serta penghormatan terhadap kebudayaan dan kearifan lokal,” kata Ike.
Untuk itu, khusus tahun ini, lanjutnya, tema yang diusung adalah budaya karena belakangan terasanya rakyat Indonesia semakin sektarian bekerja sendiri-sendiri. “Semakin kesini saya merasa orang bekerja dengan kelompoknya masing-masing, tanpa ada wadah ini lho tempat menyatukan lintas iman tuh gak papa, ada keberagaman dari seni budaya juga,” ujarnya saat ditemui di sela acara.
Disamping itu, pemilihan Cagar Budaya Arca Joko Dolog sebagai lokasi kegiatan memiliki makna historis dan simbolis, mengingat tempat tersebut dikenal sebagai ruang toleransi lintas iman dan pernah dikunjungi langsung oleh Gus Dur pada tahun 1995. Lokasi ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996.

Pihaknya pun berharap acara itu makin mempererat semua golongan. Bukan hanya lintas iman, tapi juga kelompok-kelompok marjinal. “Tema nasionalnya adalah dari rakyat oleh rakyat oleh rakyat untuk rakyat, kita menggambarkan inklusifitas antarlintas iman lintas budaya,” sebutnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia Ekspresi Ragam Budaya, A. Khoirul Anam .menjelaskan, kegiatan tersebut berlangsung dua hari. Mulai 28-29 Januari 2026 dengan berbagai kegiatan.
Puncaknya, saat Haul Gusdur pada 29 Januari 2026 yang diramaikan barongsai, kidung, orchestra lir-ilir, doa dan pertunjukan lintas iman, hingga pemotongan 16 tumpeng.
“Yang menarik lagi di sini, setiap keyakinan menampilkan budayanya masing-masing. Setiap agama yang masuk ke indonesia ini melalui budaya. Islam nanti menampilkan hadrah, budha cara meditasi, dan sebagainya,” pungkasnya. (hk/red)
Tags: arca joko dolog, haul gus dur, Pluralisme, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





