Warga Binaan Lapas Kelas 2A Kediri Tekuni Usaha Kuliner

Yovie Wicaksono - 25 January 2021
Warga Binaan Lapas Kelas 2A Kediri Tekuni Usaha Kuliner. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Bagi Nurkholik, menjalani sisa masa tahanan 6,5 tahun di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas 2A Kediri  adalah masa penantian yang sangat panjang. Di masa penantian itu, ia ingin berbuat baik dan membantu sesama.

Karena dinilai sering berbuat baik selama menjalani pembinaan, ia kemudian dipilih pihak Lembaga Pemasyarakatan untuk mendapatkan pelatihan memasak dan membuat minuman.

Selama 3 bulan mengikuti pelatihan, terpidana kasus pembunuhan dengan vonis kurungan 9 tahun penjara ini dengan mudah menyerap semua materi yang diajarkan oleh pendamping. Pelatihan diberikan di ruang bimbingan kerja setiap siang hari, usai mengikuti bimbingan kerohanian (mengaji).

“Disaat penghuni lainnya mengikuti pelatihan berupa pembuatan mebel dan keterampilan tenun, saya justru lebih memilih pelatihan memasak. Alasanya, karena dari dulu saya memang hobi memasak dan suka dagang,” ujar pria berusia 48 tahun ini.

Materi pelatihan yang diberikan kala itu adalah tentang cara membuat jus buah, membuat minuman jagung hawai serta memasak nasi gegok khas Trenggalek.

Setelah kemampuannya dianggap mumpuni, timbul ide dari pihak Lapas untuk memberikan fasilitas berupa pembuatan warung berbahan besi stainless. Warung non permanen ini ditempatkan di tepi jalan di depan kantor Lembaga Pemasyarakatan untuk berjualan.

“Saya sangat senang sekali, dengan begini hobi saya memasak dan membuat minuman bisa tersalurkan. Selama berjualan, alhamdulilah respon masyarakat sangat positif. Bahkan pembelinya justru lebih banyak dari luar. Kalau pengunjung Lapas biasanya hanya membeli minuman teh dan kopi sambil menunggu nomor antrian,” ujarnya.

Dari sekian varian menu yang dijual, paling laku dan banyak diminati adalah minuman jagung hawai, jus buah, mie goreng dan nasi gegok khas Trenggalek. Jika pada umumnya harga mie goreng di pasaran dijual Rp 11.000 ribu per porsi, disini cuma dijual Rp 8.000 per porsi. Minuman jus buah Rp 7000 ribu, minuman es jagung hawai Rp 6000 dan nasi gegok Rp 8000 ribu.

“Kalau nasi gegok itu, lauknya dari ikan pindang. Bumbu rujak tapi yang ini lebih mantap, nasi campur kuah dikukus dengan daun pisang jadi rasanya terasa  sedap,” katanya.

Nurkholik diizinkan berjualan mulai pukul 07.30 – 14.30 wib. Namun belum sampai 14.30 wib, terkadang dagangnya tersebut terlebih dulu habis. Sebelum berjualan keluar, bapak 4 anak ini membutuhkan waktu 30 menit untuk mempersiapkan bahan. Untuk mie goreng, bahan mie mentah yang disiapkan sekitar 2 kilogram.

“Sebelum keluar berjualan, jam 06.30 WIB kita beribadah ke masjid lapas, mengaji dan beribadah sholat Dhuha,” ujarnya.

Nurkholik sangat bersyukur dan sangat berterima kasih kepada pihak Lapas karena telah memberikan  perhatian kepada semua warga binaan yang ada disini, termasuk segala pembekalan pelatihan yang telah diberikan. Dengan begitu, lanjutnya, jika suatu saat nanti dirinya sudah selesai menjalani masa hukuman setidaknya ia sudah memiliki bekal keterampilan untuk kembali hidup ditengah-tengah masyarakat.

“Ini nanti bisa saya kembangkan jika saya keluar dari sini. Harapan saya selama tinggal di Lapas, semoga saya tetap diberikan semangat untuk menjalani sisa masa hukuman. Pihak Lapas bisa membimbing saya agar bisa lebih baik lagi, syukur kalau bisa diberi pelatihan untuk membikin menu masakan lain,” harapnya.

Nurkholik mengaku jerih payahnya selama 4  berjualan, telah mendapat apresiasi dari lapas dalam bentuk  reward pemberian uang setiap bulan. Uang itu dapat dipergunakan untuk menopang keperluan sehari hari semisal untuk membeli rokok dan keperluan lainnya.

Meski masih menjalani masa hukuman di Lapas, ia masih bisa bersyukur karena kebutuhan ekonomi keluarganya masih cukup. Sebab, sebelumnya ia bersama istri telah memiliki usaha warung makanan di wilayah Sepanjang Sidoarjo.

“Intinya pihak lapas tidak menutup mata, dan sangat peduli,” kata pria lulusan Sekolah Menengah Pertama ini.

Lebih lanjut, ia tidak memungkiri, rasa penyesalan atas perbuatannya di masa lampau  terkadang hinggap dihati kecilnya. Namun karena penyesalan itulah yang membuat dirinya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Menurutnya, pasca kejadian itu, pihak keluarganya sudah meminta maaf kepada pihak keluarga korban dan ia sangat bersyukur mereka sudah mau membuka pintu maaf.

Selama menjalani masa hukuman di Lapas, terkadang juga timbul perasaan kangen dengan istri dan 4 orang anaknya yang tinggal di Sidoarjo. Karena masih masa  pandemi, pihak Lapas meniadakan peraturan berkunjung secara tatap muka. Sebagai gantinya, Lapas telah memfasilitasi alat komunikasi berupa video call.

“Kalau ke sini memang saya larang, cuman video call saja. Kasihan kalau datang karena lagi musim pandemi, saya sendiri khawatir. Biasanya saya video call, setelah Ashar setelah berjualan selesai,” ungkapnya.

Ia mengaku, dalam setiap kali tafakur menghadap sang Khalik, tidak lupa ia selalu memanjatkan doa untuk keluarganya agar selalu sehat dan dijauhkan segala macam musibah.

Sementara itu, Yudistira selaku Staf Kamtib Lembaga Pemasyarakatan kelas 2A Kediri menilai, keseharian Nurkholik dalam menjalani masa hukuman dianggap sangat baik. Ia selalu mentaati ketentuan dan peraturan yang ada, sehingga layak mendapatkan kesempatan.

“Beliau bisa seperti itu harus melalui beberapa persyaratan antara lain, berperilaku baik mentaati tata tertib,  TPP serta telah menjalani masa satu setengah tahun,” pungkasnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.