SEJIWA, Lindungi Psikologi Perempuan dan Anak saat Pandemi Covid-19

Yovie Wicaksono - 30 April 2020

SR, Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga turut mengapresiasi dan mendukung inisiasi Layanan Psikologi untuk Sehat Jiwa (SEJIWA) yang diluncurkan Kantor Staf Presiden (KSP) di Jakarta, Rabu (29/4/2020).

Melalui video conference, Bintang Puspayoga mengatakan, peluncuran Layanan Psikologi SEJIWA menjadi langkah yang sangat tepat untuk membantu melindungi kondisi psikologi perempuan dan anak di tengah wabah Covid-19.

“Kita harus memperhatikan dan memastikan terpenuhinya perlindungan khusus terhadap kelompok rentan, yakni perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas yang dapat dilakukan dengan memberikan prioritas berupa penyelamatan, evakuasi, pengamanan, serta pelayanan kesehatan dan psikososial,” ujar Bintang.

“Selain aspek kesehatan, menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada masyarakat, pandemi ini juga mengakibatkan bertambahnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang juga berdampak terhadap kondisi psikologis mereka,” imbuhnya.

Berdasarkan data SIMFONI PPA per 2 Maret hingga 25 April 2020 tercatat 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dewasa dengan total korban sebanyak 277 orang dan 368 kasus kekerasan yang dialami anak, dengan korban sebanyak 407 anak. 

Oleh karena itu, Kementerian PPPA telah menyusun mekanisme pelayanan kesehatan jiwa atau psikososial bagi perempuan dan anak secara offline, baik melalui rujukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) maupun Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) serta laporan yang masuk melalui Bagian Pengaduan Masyarakat Kemen PPPA. 

Mekanisme pelayanan yang diberikan mulai dari pelaporan, penerimaan pengaduan, penjangkauan, pengelolaan kasus (manajemen kasus), pendampingan pelayanan hukum, layanan psikologis, mediasi, rujukan rumah aman atau shelter, dan memastikan kasus selesai terminasi sampai dengan kasus ini dinyatakan ditutup. 

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menuturkan situasi pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan bagi semua orang dan berpotensi menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada masyarakat. 

Kecemasan masyarakat akan dirasakan, terutama bagi para pihak yang terdampak langsung oleh Covid-19, terlebih dengan pemberitaan yang begitu masif dan masih banyaknya berita hoax yang tersebar di masyarakat. Hal tersebut dapat memengaruhi kondisi ketahanan mental masyarakat. 

“Layanan Psikologi SEJIWA ini sebagai langkah nyata hadirnya negara bagi masyarakat, terutama bagi yang mengalami kondisi tidak menentu akibat pandemi Covid-19,” ujar Moeldoko.

Masyarakat dapat mengakses Layanan Psikologi SEJIWA ini melalui panggilan 119 Extension 8 (panggilan bebas biaya). 

“Kami berharap kehadiran Layanan Psikologi SEJIWA ini dapat mengatasi permasalahan kecemasan masyarakat sehingga tidak menimbulkan persoalan sosial baru. Kondisi psikologi seseorang akan berpengaruh terhadap imunitas tubuh. Untuk itu menjadi penting menjaga kondisi psikologi di tengah pandemi Covid-19,” tambah Moeldoko. 

Sementara itu, penyintas kasus pertama Covid-19 di Indonesia, Sita Tyasutami menyampaikan dukungannya terhadap peluncuran Layanan Kesehatan Jiwa Nasional yang memberikan tele-konseling psikologis pada masyarakat dan konsultasi kesehatan seputar Covid-19. 

“Berdasarkan pengalaman saat saya dan ibu saya terkonfirmasi kasus positif pertama di Indonesia, kondisi psikologis kami langsung menurun. Ditambah lagi dengan berita dan hoax yang tersebar di masyarakat membuat kondisi kami yang sudah membaik menjadi menurun kembali selama seminggu. Pelayanan konseling psikologi bukan hanya diperlukan untuk pasien Covid-19, akan tetapi juga masyarakat yang mengalami kecemasan dan ketakutan yang berlebih. Besar harapan kami agar kehadiran Layanan Psikologi SEJIWA ini dapat mencegah terulangnya pengalaman yang kami rasakan,” ujar Sita. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.