Konferensi Waligereja Indonesia Sikapi Situasi Politik Indonesia

Yovie Wicaksono - 15 November 2023

SR, Jakarta – Situasi yang terjadi di Indonesia saat ini, termasuk situasi politik bangsa, menjadi perhatian dalam sidang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2023. Ketua KWI, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (14/11/2023), mengatakan, Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Tahun 2023 di gedung KWI yang berlangsung pada 7-14 November 2023 mengambil tema ”Berjalan Bersama Menuju Indonesia Damai”.

Antonius mengatakan, tahun 2024 akan menjadi tahun dengan suhu politik tinggi, khususnya terkait pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan anggota legislatif pusat ataupun daerah, serta pemilihan kepala daerah.

Momen ini terjadi di tengah kualitas demokrasi yang cenderung turun sehingga rentan terjadi konflik horizontal yang dipicu oleh kepentingan politik sesaat dan diperparah oleh penyalahgunaan media informasi untuk menyebar kebohongan, fitnah, bahkan permusuhan. Bahaya politik identitas pun rentan dimanfaatkan para kontestan politik.

Untuk itu, Antonius mengajak masyarakat untuk memilih orang-orang yang dapat bekerja demi kesejahteraan rakyat. Apalagi, biaya pemilihan umum yang besar ditambah dengan praktik politiknya yang berbiaya tinggi dapat menggoda dan menjadi beban bagi para politikus untuk mengembalikan biaya yang dikeluarkan.

”Tidak heran ada oknum tertentu yang menerabas hukum, politik uang, hingga dinasti keluarga demi melanggengkan kekuasaan,” ujarnya.

Menurut Antonius, pilihan orang terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden bisa berbeda. KWI tidak mengarahkan pasangan calon yang patut didukung. ”Namun, pemimpin yang diharapkan yang mempunyai wawasan kebangsaan dan kenegaraan,” katanya.

Dari tiga pasangan calon yang ada, lanjut Antonius, umat tinggal memilihnya sesuai dengan hati nurani. Kira-kira, apa jasa mereka yang konkret sehingga berani menjadi pemimpin untuk mengantar Indonesia menuju Indonesia emas. ”Pikirkan juga pemimpin yang memiliki jiwa pelayanan, pengorbanan, serta integritas. Kualitas moral dan pribadi juga harus dilihat,” tuturnya.

KWI berharap dunia perpolitikan yang berlangsung saat ini tidak memecah belah rakyat Indonesia, tapi masyarakat rukun, damai, dan bersatu, apa pun pilihan politik dan presidennya.

KWI juga berpesan agar pemimpin baru memegang teguh Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menghormati kebinekaan, memiliki integritas, juga mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Pemimpin juga mesti mempunyai keberpihakan kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, difabel, serta memiliki rekam jejak yang terpuji, menjunjung tinggi martabat manusia, dan menjaga keutuhan alam ciptaan.

”Kami meminta kepada para calon eksekutif dan legislatif serta penyelenggara pemilu dan TNI–Polri untuk bersatu mewujudkan pemilu yang damai, jujur, adil, transparan, berkualitas, dan bermartabat,” kata Antonius.

Sekretaris Jenderal KWI Mgr Paskalis Bruno OFM menambahkan, pemimpin baru juga perlu mencari cara-cara baru untuk menghidupkan nilai-nilai keberagaman dan menyejahterakan semua warga. Tidak kalah penting pula, pemimpin baru mesti mencari cara baru untuk mengoptimalkan anak-anak muda yang punya potensi dalam mengembangkan negara ini dan memberikan kesempatan kepada kaum perempuan yang punya kapasitas untuk memimpin negara ini. (*/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.