Konferensi Internasional Zhenghe ke 5 Resmi Dibuka

Yovie Wicaksono - 16 July 2019
Konferensi Internasional Zhenghe (Chenghoo) ke-5 resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Konferensi Internasional Zhenghe (Chenghoo) ke-5 resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di JX International Convex, Surabaya, pada Senin (15/7/2019) malam.

Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan, terpilihnya Indonesia khususnya Jawa Timur sebagai tuan rumah Konferensi Internasional Zhenghe ke-5 ini tidak lepas dari berbagai fenomena keberhasilan Islam di Indonesia dalam membangun dialog antarbudaya dan masyarakat yang memiliki karakteristik yang khas telah menarik dunia internasional.

“Karakteristik yang khas tersebut dapat dilihat dari keberagaman budaya, suku, ras, bahasa, kelompok, dan agama di nusantara. Kebudayaan lokal yang merupakan akulturasi nilai islam dan budaya lokal inilah, Indonesia sampai kini menjadi kiblat perdamaian dalam kemajemukan dari berbagai belahan dunia,” ujar Khofifah.

Khofifah mengatakan, konferensi ini diharapkan akan bisa menyamai perspektif perdamaian dan menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

“Kami berharap bahwa perspektif tentang Tionghoa akan terbangun lebih luas dan cerah, bahwa ada komunitas Muslim Tionghoa dari 12 negara hadir dan mereka ingin membangun perspektif bagaimana sebenarnya kita yang satu dengan yang lain saling membangun suasana damai. Jadi pesannya adalah pesan damai, menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan,” ujar Khofifah.

Konferensi yang digelar pada 15-17 Juli 2019 di UIN Sunan Ampel ini dihadiri 12 narasumber dari luar negeri dan 58 peserta dari Tiongkok, Malaysia, Taiwan, dan Amerika Serikat.

“Tentunya kita semua akan punya tugas untuk mendesiminasikan. Saya juga meminta siswa dan guru diundang, supaya perspektif kita tentang damai, keberagaman, bisa memperkukuh persaudaraan dan persatuan kita sebagai sebuah bangsa,” imbuhnya.

Sedangkan, Ketua Penyelenggara sekaligus Dekan FISIP UIN Sunan Ampel, Akh. Muzakki mengatakan, tema yang diangkat tahun ini adalah hubungan antara Indonesia dan Tiongkok dalam nilai-nilai kemanusiaan, agama, dan budaya.

“Hubungan antara Indonesia dan Tiongkok ini memiliki dasar historis yang mapan, sehingga perlu dieksplorasi demi menjaga hubungan kedua bangsa kedepan,” ujarnya.

Berbagai kesenian kolaborasi Indonesia dan Tiongkok turut dihadirkan dalam pembukaan Konferensi Internasional Zhenghe, seperti Tarian Sufi, Tari Sekar Giri, Barongsai, Musik Kemuning, Orkestra 100 Anak Yatim Banyuwangi “Lalare”, dan Paduan Suara Chenghoo.

Turut hadir Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak, Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Panglima Kodam V Brawijaya Mayjen R Wisnoe Prasetja, serta istri Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yakni Sinta Nuriyah Wahid mewakili Gus Dur yang menerima penghargaan Peace Award dalam acara tersebut.

Sekedar informasi, Konferensi ini pertama kali digelar di Malaysia (2015), Dubai (2016), Kazakhstan (2017), dan Pakistan (2018). Tahun ini diselenggarakan atas kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel, Zhenghe International Peace Forum (ZIPF), Ma Chung University, Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Surabaya dan Banyuwangi, PWNU Jawa Timur, dan PW Muhammadiyah Jawa Timur. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.