Ketupat Transformers “Jajah” Kediri

Yovie Wicaksono - 30 May 2020
Sebuah kendaraan Vespa PX yang disulap menjadi kendaran truk gandeng mini untuk menjual kuliner ketupat di Jalan Teuku Umar Kelurahan Ngadisimo, Kota Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri –  Saat melintas di Jalan Teuku Umar Kelurahan Ngadisimo, Kota Kediri, nampak sebuah kendaraan Vespa PX yang disulap menjadi kendaran truk gandeng mini untuk menjual kuliner ketupat.

Diatas lapak Vespa keluaran tahun 1980 ini terdapat varian kuliner ketupat tersaji dengan harga yang relatif terjangkau.

Selain pelanggan tetap, sejumlah pengguna jalan yang kebetulan melintas di lokasi merasa tertarik hingga akhirnya mampir untuk membeli ketupat yang dijajakan di atas vespa ini.

Para pembeli yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Kota Kediri, melainkan juga kabupaten bahkan dari luar kota sekalipun.

Vespa yang dinamai Vespa Transformers  ini merupakan milik Kristanto Eko Putro. Kristanto secara pribadi menilai vespa merupakan alat transportasi yang sangat mudah. Dirinya sedikit banyak tahu dan paham tentang vespa. Dulu kendaraan vespa jenis PX kesayangannya itu ia beli dengan harga Rp 5 juta.

Bapak tiga anak ini mengaku Vespa Transformersnya tersebut, efektif ia operasionalkan untuk  berjualan sekitar kurang lebih dua tahun lalu.

Sebelumnya ia berjualan dekat perempatan Jalan Raya Ngadisimo. Namun, selepas beberapa lama kemudian muncul ide untuk memodifikasi vespanya menjadi mirip kendaran  truk gandeng yang bisa difungsikan untuk berjualan.

“Idenya spontan aja, awalnya melihat jalan ini kan sering dilewati kendaraan truk gandeng, akhirnya timbul keinginan untuk memodifikasi Vespa PX yang saya punya,” kata Kristanto Eko Putro.

Untuk dapat memodifikasi vespanya tersebut, dibutuhkan biaya tidak sedikit.  Ia harus merogoh kocek dari kantong pribadinya sebesar 20 juta.

“Tidak langsung keluarkan uang 20 juta, ya kita benahi pelan-pelan dengan biaya seadanya dulu. Jika dikalkulasi kurang lebih habis Rp 20 juta,” terang pria yang mengenyam bangku pendidikan tingkat SLTA ini.

Ia mengatakan, meski jumlah pembeli tahun ini ramai, namun jika dibandingkan lebaran tahun lalu masih lebih ramai. Ia memperkirakan turunnya daya beli masyarakat saat ini tidak lepas dari situasi pandemi sekarang.

“Kalau lebaran kupatkan tujuh hari lamanya. Puncaknya hari ini sama besok ramainya. Meskipun saat ini ramai, tapi jumlah pembeli jika dibandingkan hari raya tahun kemarin, tahun ini turun. Mungkin karena situasi sekarang Covid-19. Kalau tahun ini istri masak agak longgar waktunya. Kalau tahun lalu masaknya full bisa dari pagi hingga pagi lagi,” katanya.

Ia mengaku, resep dalam membuat varian ketupat ini, merupakan tradisi turun temurun dari pihak keluarga istrinya. Karena dikenal dengan kualitas rasanya yang lezat, sejak tahun 2007 lalu ia bersama istrinya memutuskan untuk berjualan ketupat. Setelah mencoba berjualan, ternyata respon pembelinya cukup bagus hingga sampai sekarang.

Masakan ketupat dijual dengan harga bervariasi. Meski mendekati berakhirnya lebaran ketupat, harga janur terus naik hingga menembus Rp 70.000 per lonjor. Namun, Kristanto Eko Putro menjual kupat buatan istrinya itu dengan harga tetap.

Harga ketupat per 10 biji dijual harga Rp 30.000, lepet per 10 biji Rp 30.000, bubuk kedelai dijual antara Rp 2000 – Rp 3000 serta sayur tahu Rp 5.000 per bungkus.

Omzet yang didapat dari hasil penjualan mulai pukul 07.00 pagi hingga menjelang Magrib, kisaran Rp 500.000 ribu.

Ia merencanakan setelah lebaran ketupat berakhir, akan masih bisa melanjutkan untuk tetap berjualan kuliner tradisional tersebut.

“Selain berdagang, saya juga punya usaha sampingan jual beli vespa,” tandasnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.