Jejak Bung Karno di Surabaya

Yovie Wicaksono - 7 June 2020
Diskusi daring "Bung Karno Kelahiran Surabaya dan Gagasan To Build The World a New" yang digelar DPC PDI Perjuangan Surabaya, Sabtu (6/6/2020) malam. Foto : (Super Radio)

SR, Surabaya – Tanggal 6 Juni 1901 merupakan hari dimana Sang Proklamator, Bung Karno dilahirkan. Namun, tempat lahir beliau sempat menjadi polemik, antara di Blitar atau di Surabaya.

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Adrian Perkasa mengatakan, seorang arsitek dan juga pemerhati sejarah, yakni Bambang Eryudhawan memiliki sumber primer yang langka bahwa kelahiran Bung Karno adalah di Surabaya.

“Sumber primer tersebut adalah buku induk Technische Hogeschool (TH, cikal bakal ITB Bandung) yang memuat data Sukarno semasa kuliah disana. Namun disana tertulis Raden Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1902, bukan 1901 sebagaimana tahun kelahirannya,” ujar Adrian dalam diskusi daring “Bung Karno Kelahiran Surabaya dan Gagasan To Build The World a New” yang digelar DPC PDI Perjuangan Surabaya, Sabtu (6/6/2020).

“Menurut Mas Yudha perbedaan tahun kelahiran tersebut bisa saja terjadi karena dilakukan modifikasi untuk pengaturan tahun dan hal itu lumrah karena biasanya dulu anak yang mau masuk sekolah usianya sengaja dibuat muda atau dituakan oleh orang tuanya,” imbuhnya.

Adrian menambahkan, dalam buku induk tersebut juga tertulis ayah Sukarno bernama R. Sosrodihardjo yang bekerja sebagai guru. Kemudian terdapat sedikit perbedaan dalam penulisan nama ibu Sukarno yang dikenal Ida Ayu Nyoman Rai, yang tertulis Ida Nyomanaka dalam buku induk tersebut. Sukarno sendiri tercatat sebagai mahasiswa teknik sipil jurusan pengairan dan sebelumnya bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya.

Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayah dari Sukarno, dijelaskan, ditugaskan di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya di Singaraja, Bali. Kemudian ia dipindahtugaskan ke Kota Surabaya sebagai guru di Sekolah Rakyat Sulung.

“Ketika ditugaskan di Surabaya, istrinya tengah mengandung. Hingga akhirnya lahirlah Soekarno, di rumah dan lingkungan yang sederhana,” kata Adrian.

Rumah kelahiran Bung Karno sendiri berada di Jalan Pandean IV Nomor 40 Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur.

Tidak hanya lahir di Surabaya, Adrian menjelaskan, dari berbagai literasi menunjukkan bahwa semasa muda Bung Karno juga banyak berproses di Surabaya.

Dimana Sukarno muda pernah tinggal di rumah salah satu Guru Bangsa, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang biasa dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto yang terdapat di Jalan Peneleh Gang VII No. 29 – 31, Genteng, Surabaya.

Rumah peneleh ini merupakan kediaman Tjokroaminoto selama tinggal di Surabaya. Istri Tjokroaminoto, Soeharsikin, pada kisaran tahun 1912 membuka rumahnya sebagai tempat kost bagi para pelajar HBS yang merupakan sekolah Sukarno pada masa itu, dan untuk para pelajar sekolah-sekolah milik Pemerintah Hindia Belanda lainnya.

Dirumah ini lah, Tjokroaminoto mengajar dan berdiskusi dengan para aktivis muda, termasuk Sukarno yang  tinggal di rumah ini selama kurun waktu 1916-1921.

Rumah tersebut juga menjadi saksi lahirnya pemimpin besar di Indonesia. Diantaranya, Soekarno dengan konsep nasionalisme. Semaoen, Alimin, dan Musso dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dengan pemikiran Islam yang radikal (Negara Islam Indonesia/NII).

Latar belakang yang berbeda diantara mereka yang tinggal di rumah Tjokro, membuat rumah ini disebut sebagai “rumah pergerakan”.

Adrian mengatakan, banyak jejak perjuangan Bung Karno di Kota Pahlawan ini. Bahkan setelah Sukarno dipenjara di Sukamiskin, Bandung lantaran pemerintah kolonial menuduhnya sebagai musuh berbahaya yang menyebarkan propaganda, Sukarno kembali ke Surabaya untuk menghadiri Kongres Indonesia Raya yang dipimpin Dr. Soetomo.

“Kongres ini menjadi momentum bagi Sukarno untuk tampil lagi ke ruang publik setelah dipenjarakan. Bayangkan, Sukarno baru saja lepas dari tahanan politik, langsung tampil di Surabaya, membakar semangat arek-arek Suroboyo,” katanya.

“Tak mengherankan Bung Karno menyebut Surabaya sebagai dapur nasionalisme, dapur Revolusi Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, rakyat Surabaya ketika itu sudah berapi-api membayangkan nasionalisme Indonesia, bukan lagi nasionalisme Jawa, nasionalisme Minang,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.