Budidaya Ikan Cupang di Desa Badal Pandean Kediri

Yovie Wicaksono - 9 November 2020
Budidaya Ikan Cupang di Desa Badal Pandean Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Budidaya ikan cupang saat ini sedang diminati banyak kalangan, salah satunya komunitas budidaya ikan di Desa Badal Pandean, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, yang sudah ada sejak akhir 1970an. Namun khusus budidaya ikan cupang mulai ada pada awal 1980an.

Anang Royani, salah satu anggota komunitas budidaya ikan hias di desa setempat mengatakan, nilai ekonomis tinggi dan tidak terlalu membutuhkan tempat yang begitu luas menjadi salah satu alasan mereka memilih budidaya ikan cupang.

Mareka melayani pembelian dalam bentuk benih ikan, bahan, dan pembesaran. Tetapi mayoritas cenderung pada pembenihan. Untuk masa panen bagi pembenihan ikan diperlukan waktu paling cepat 20 hari dan paling lambat satu bulan.

Jenis budidaya ikan cupang yang dikembangkan juga beraneka macam. Mulai dari jenis galaxy, galaxy multi, giant, dan blue rim yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Kalau sekarang yang lagi digemari, trendnya dari jenis galaxy, multi sama avatar, kurang lebih itu,” kata Anang.

Nominal harga tertinggi yang pernah dijual mencapai jutaan rupiah. Tergantung dari kualitas ikan cupang itu sendiri yang biasanya dinilai dari warna.

“Kalau nominal kita ambil dari harga tertinggi, untuk kualitas sudah full block artinya warna sudah tegas, warnanya warna merah nyala, harganya sampai jutaan rupiah,” pungkasnya.

Terkait pemasaran produk, para petani disini lebih cenderung menjualnya dengan sistem online yang dianggap bisa menjangkau wilayah yang luas. Bahkan penjualan sampai tembus ke luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, China dan USA.

“Sebagian dari teman sudah ada yang ekspor, ada yang sampai ke Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, China. Kemarin teman sendiri sudah sampai ke USA, itu per ekornya kena Rp 6 juta – Rp 4 juta, untuk satu jenis ikan,” kata Anang.
Ia mengatakan, ikan cupang asal Desa Badal Pandean ini memiliki keunggulan yang ditinjau dari sisi perawatan, sehingga ikan lebih tinggi agresifitasnya dan memiliki daya tahan terhadap penyakit.

Adapun kendala yang dihadapi oleh para petani cupang di Desa Badal Pandean saat ini terkait suplai makan untuk ikan, yakni cacing sutra. Adanya peralihan musim dari kemarau ke hujan membawa dampak berkurangnya populasi atau habitat cacing sutra di sungai karena pasokan terbatas, sejumlah agen pun terpaksa harus mendatangkan cacing sutra dari Surabaya.

“Mendatangkan dari Surabaya, saat ini ukuran per kaleng susu cacing sutra dijual kisaran Rp 10 ribu – Rp 12 ribu. Kalau harganya naik tidak terlalu signifikan. Sebelumnya Rp Rp 8 ribu – Rp 9 ribu,” katanya.

Cacing sutra sendiri dinilai sangat bagus untuk pertumbuhan ikan cupang. Khususnya mulai dari sejak benih usia 20 hari hingga ikan menginjak ke usia remaja 1 bulan setengah.

Namun selepas usia remaja, ketika ikan cupang dipindahkan ke tempat khusus berupa botol atau soliter mulai mengeluarkan warna pola, makanya diganti dengan pelet atau kutu air.

Dalam perawatannya, ia mengatakan, peralihan musim juga berpengaruh pada pola adaptasi ikan terhadap cuaca sehingga rentan terkena penyakit kulit sejenis jamur.

“Kalau terkena penyakit jamur, ikan cenderung kurang agresif, ekornya nguncup semua sehingga tidak terlihat bagus. Faktornya air dan suhunya,” kata Anang.

Guna mengantisipasi hal itu, agar tidak terserang penyakit jamur para petani budidaya ikan cupang memiliki cara jitu yakni menggunakan ekstrak daun ketapang dioplos dengan garam. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.