Berdamai dengan Kanker Payudara

Yovie Wicaksono - 5 February 2022

SR, Surabaya – Kanker merupakan salah satu masalah kesehatan tertinggi di dunia. Sekira 10 juta orang meninggal akibat kanker setiap tahunnya, bahkan 70 persen angka kematian akibat kanker terjadi pada negara berkembang atau low middle income countries (LMICs), salah satunya Indonesia.

Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO) mencatat, total kasus kanker di Indonesia pada 2020 mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebesar 234.511 kasus. Dimana kanker payudara memiliki jumlah kasus baru tertinggi, yakni sebesar 65.858 kasus atau 16,6% dari total 396.914 kasus kanker.

Bukan hanya menimbulkan gejala fisik yang menyakitkan, bahkan membahayakan nyawa, kanker payudara juga mengakibatkan efek psikologis yang bisa menurunkan semangat hidup penderitanya.

Dalam peringatan Hari Kanker Sedunia, 4 Februari. Super Radio mewawancarai dua penyintas asal kota Pahlawan. Mereka hingga kini masih survive dengan aktifitas masing-masing.

Maylania, penyintas kanker payudara adalah salah satu yang berhasil diwawancarai. Ia mengatakan, dukungan dari berbagai pihak, utamanya suami dan anak-anak membuatnya kuat untuk menjalani tiap proses tahapan penyembuhan kanker payudara yang dialaminya pada 2008 lalu. Atau pada saat ia berusia 35 tahun.

“Karena down sekali. Apalagi saat itu saya terlalu banyak mendapatkan informasi yang menakutkan tentang kanker payudara, tidak akan sembuh, belum lagi dampak kemoterapinya,” ujar perempuan yang akrab disapa May ini.

Hingga kini, memori itu masih jelas teringat dibenaknya. Memori saat pertama kali memeriksakan diri ke dokter umum setelah merasakan payudara kirinya terasa sakit dan agak keras.

Dari dokter umum, ia memeriksakan diri ke dokter onkologi pada 28 September 2008. Ia kemudian menjalani Mammografi, yakni pemeriksaan X-Ray khusus untuk menilai jaringan payudara.

“Setelah itu ada hasil dan dokter bilang payudara sebelah kiri gak papa tapi ada infeksi dan payudara sebelah kanan ada pengapuran yang kemungkinan cancers. Saya sempat tidak percaya, yang sakit itu payudara kiri tapi kok yang kena payudara kanan,” katanya.

Saat itu hasil pemeriksaan menunjukkan May 90 persen terkena kanker payudara dan 70 persennya ganas. Kanker payudaranya sudah pada stadium II B dan menyebar ke kelenjar getah bening yang membuatnya harus segera menjalani operasi agar kondisinya tidak semakin parah.

“Saya masih ingat betul, karena pada saat itu anak saya sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 7. Dan saya hanya bisa menangis membayangkan saya tidak bisa menemani anak-anak saya lagi kalau meninggal karena kanker payudara,” ujarnya.

Setelah berbicara bersama keluarga dan berkonsultasi dengan dokter, akhirnya pada 13 Oktober 2008, May menjalani mastektomi atau operasi pengangkatan payudara kanannya untuk menghilangkan sel kanker sekaligus operasi untuk mengambil benjolan infeksi di payudara kirinya.

Sebulan setelah itu, ia harus menjalankan kemoterapi pertamanya. “Saya sempat melarikan diri saat akan kemo pertama karena ketakutan. Setelah dikuatkan oleh keluarga, akhirnya saya mau di kemo untuk yang pertama. Karena kondisi psikologis saya tidak siap saat itu, kondisi saya semakin down akhirnya saya tidak melanjutkan kemo untuk kedua kalinya,” katanya.

May pun memutuskan untuk berobat ke alternatif dengan biaya yang hampir sama dengan kemoterapi. Saat itulah ia merasa membaik lantaran tidak merasakan efek samping dari obat alternatifnya sehingga membuat May semangat lagi hingga suatu ketika payudara kirinya yang dioperasi juga karena ada infeksi itu mengalami abses, sehingga harus dibersihkan lagi dan ternyata terdiagnosa Tuberkulosis (TB) payudara.

Dua atau tiga bulan berikutnya May memilih kembali berobat ke rumah sakit dan menjalani kemoterapi. Total, ia menjalani 10 kali kemoterapi pasca operasi. Tak hanya itu, ia harus terapi obat hormonal selama 10 tahun, dan kontrol setahun sekali tiap bulan November seumur hidup mengingat risiko kanker akan kembali selalu ada.

“Pada saat itu dokter menawarkan solusi untuk dilakukan rekonstruksi, mengingat usia saya yang masih 35 tahun. Saya beruntung karena ini tidak terlalu kentara, hanya seperti bekas luka di payudara saja,” katanya.

May yang pada saat itu sebagai ibu rumah tangga dan suami yang baru saja merintis usaha harus mengeluarkan uang sekira Rp25 juta untuk biaya mastektomi dan operasi rekonstruksi payudara untuk membentuk payudara setelah melakukan mastektomi. Belum termasuk biaya per sekali kemoterapi yang senilai Rp4-5 juta. Saat itu, ia tidak memiliki asuransi dan belum ada program BPJS.

Ia tak menampik, dampak psikologis yang dialaminya pasca mengalami kanker payudara dan menjalani berbagai prosedur pengobatannya, ia menjadi trauma berat dengan kemoterapi. Bahkan, mendengar kata kemoterapi saja bisa membuatnya merasakan pusing.

Kini ia telah berhasil melalui itu semua. Ia sangat bersyukur lantaran masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya. Ia pun bertekad untuk mengisi hidupnya dengan hal-hal baik, salah satunya dengan aktif menjadi relawan di komunitas breast cancer untuk melakukan pendampingan dan penguatan pada mereka yang baru saja menerima vonis kanker payudara.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.