Yudi Latif : Ancaman Imperialis Fundamentalis dan Neo Liberasil Lebih Berbahaya Dibandingkan Ancaman Ideologi Komunis

Petrus - 24 September 2017
Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan pelajar SMA (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif mengungkapkan, ancaman yang paling berbahaya dibandingkan dengan ancaman paham komunis adalah Imperialis, fundamentalis dan neo liberalis.

Hal ini disampaikan oleh Yudi Latif dihadapan ratusan mahasiswa dan pelajar SMA di lingkungan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, belum lama ini.

Menurut Yudi Latif, kewaspadaan ideologi di masyarakat Indonesia memang sangat diperlukan, namun harus didasari dengan wawasan perkembangan geo politik dan perkembangan tentang kenyataan yang riil di masyarakat.

Kewaspadaan Ideologis dalam kontek Pancasila sumbernya dari segala sisi Sila yang ada di dalam Pancasila. Setiap Sila memiliki ancaman Ideologisnya.

“Bisa saja kita memiliki himbauan kepada generasi muda tentang bahayanya paham komunisme. Namun hal ini tidak berarti memadamkan daya nalar kita bahwa sebenarnya ancaman-ancaman baru dalam bentuk ideologi baru lebih berbahaya,” ujar Yudi

Dikatakan oleh Yudi Latif, ancaman ideologi baru yakni ancaman yang ditimbulkan oleh neo liberalisme, imperialisme, fundalisme, ekstrimisme, dan berbagai bentuk eksklusifisme. Hal ini lebih berbahaya bagi generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.

“Yang penting perlu adanya kejujuran bahwa pisau analisis kita yang akan dikembangkan di masyarakat suatu sifat yang bisa merespon memperkuat nilai-nilai Pancasila, sehingga mempunyai daya resistensi terhadap berbagai ancaman,” katanya.

Dijelaskan oleh Yudi Latif, daya resistensi terhadap berbagai ancaman itu sebaiknya tidak dilakukan dengan cara reaktif, namun lebih dititik beratkan kepada introspeksi akan keampuhan jiwa Pancasila yang sudah disosialisasikan selama ini.

“Justru dengan sikap yang reaktif, justru menunjukkan kita tidak punya daya resistensi, Pancasila tidak punya ketahanan,” ungkapnya.

Saat ini yang penting, bagaimana nilai-nilai Pancasila di semua Sila-nya harus kita tanamkan di masyarakat, sehingga Pancasila mempunyai kesaktian untuk merespon semua ancaman. Untuk itu diperlukan keseriusan, analisis yang obyektif dan kejujuran untuk mengamalkan Pancasila, sehingga kita tidak terlalu reaktif menghadapi ancaman terhadap ideologi Pancasila.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.