Wisata Religi di Pemandian Wendit

Yovie Wicaksono - 29 September 2018
Sendang Widodaren, Dipercaya Sebagai Tempat Pensucian Bagi Calon Raja. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Malang – Berkunjung ke kota Malang, kurang lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Wisata Wendit, yang berada di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Disana terdapat Wendit Waterpark yang merupakan wisata pemandian.

Wisata Wendit, atau yang sering disebut masyarakat  Mendit ini memiliki luas 15 hektar dengan berbagai fasilitas dan wahana yang ada, seperti kolam renang asli dan buatan, kolam perahu, area mandi bola, dan juga wahana bom-bom car.

Wisata Wendit juga memiliki wisata religi seperti punden Mbah Kabul, dan Sendang Widodaren yang sarat akan sejarah nusantara.

Menurut penuturan Soleh (44), juru kunci sendang widodaren dan punden Mbah Kabul, kedua tempat ini memiliki keterkaitan dengan Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit sekaligus raja pertama yang memimpin di era 1293 – 1309.

Hal ini dibuktikan dengan adanya arca Raden Wijaya yang terletak di ruangan samping sendang widodaren.  Bersanding dengan arca Raden Wijaya, ada arca kepala naga sebagai simbol penjaga air, dan arca buto, yang diartikan sebagai penjaga pintu gerbang.

Karena keterkaitannya dengan Raden Wijaya, sendang widodaren menjadi tempat pembersihan diri bagi mereka yang mencalonkan diri sebagai raja.

“Jaman dulu orang yang mau jadi raja, pembersihannya atau bersucinya itu mandi dulu di sendang widodaren” kata Soleh kepada Super Radio, pada Sabtu (29/9/2018).

Soleh menambahkan, “Orang yang berkunjung ke sendang widodaren terkadang melihat air yang berada disana seperti menyala, airnya seperti Kristal, dan ada juga yang hanya melihat air berwarna biru karena kejernihnya, hal itu terjadi sesuai dengan kemampuan spiritual masing-masing orang yang datang.”

Sendang widodaren diibaratkan dengan tempat sesucen atau tempat untuk bersuci, sedangkan ruangan yang berisi 3 arca biasanya digunakan untuk bermeditasi.

Arca Raden Wijaya (Tengah), diapit Arca Kepala Naga dan Arca Buto. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Di belakang sendang widodaren dan ruangan 3 arca, terdapat punden Mbah Kabul yang merupakan Brahmana utusan kerajaan Majapahit. Semasa hidupnya, Mbah Kabul diminta Raden Wijaya untuk mencari ujung pelangi, yang berada di Wendit.

“Nama Mbah Kabul yang asli tidak mau diungkap. Khawatirnya kalau namanya di buka akan salah kaprah. Kalau menurut arti, Kabul itu seperti  Amin, berarti doa, dan cepat mengabulkan doa. Tapi kita tidak minta disini atau minta ke Mbah Kabul tidak, kita hanya menghormati leluhur. Kita tetap minta do’a kepada Tuhan” ujar Soleh.

Soleh  yang mengaku  memiliki pengalaman spiritual bertemu Mbah Kabul, mengatakan agar tidak membeda-bedakan agama yang ada.

“Yang terpenting kamu tidak membeda-bedakan warna merah hijaunya kain (tidak membedakan agama yang ada, semuanya netral dan sama). Itu pesan dari Mbah Kabul yang saya dapatkan,” jelas Soleh.

Di hari tertentu, seperti saat upacara tirto aji (musim tanam), warga Tengger datang untuk mengambil air sendang widodaren dan disiramkan pada ladangnya agar tanaman subur dan hasil panennya berlimpah. Sebagai pelengkap, digelar juga ritual bersih desa, jamasan (mencuci keris), dan grebeg suro. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.