Warga Ponorogo Melestarikan Tradisi Membuat Keris

Petrus - 16 January 2018
Gondo Puspito dengan Keris buatannya (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Keris merupakan senjata tradisional asli Indonesia, yang pada jaman dahulu sering digunakan untuk senjata membela diri kini. Kini Keris lebih sering digunakan untuk hiasan dalam upacara adat atau untuk pameran.

Dalam pembuatannya Keris tidak harus serumit pada jaman dahulu kala, yang hanya bisa dikerjaan oleh seorang empu. Pembuat Keris jaman sekarang lebih kepada seorang pengrajin atau pegiat seni. Salah satunya adalah Gondo Puspito (38 tahun) warga jalan Ternate, Mangkujayan, Kabupaten Ponorogo, yang menekuni seni kerajinan Keris sejak 4 tahun lalu.

“Saat itu saya ingin membuat Keris untuk diri saya sendiri dan saya pamerkan kepada teman saya, kemudian dia tertarik lalu membeli Keris buatan saya,” kata Gondo.

Gondo sebelumnya memang bukanlah pengrajin Keris seperti sekarang ini, melainkan seorang pembuat warangka atau sarung dari Keris. Dia sudah membuat warangka sejak umur belasan tahun.

“Kakek saya dulu adalah dalang, sehingga saya tertarik untuk hal-hal seperti ini, sampai saya menekuni membuat Keris seperti saat ini,” imbuhnya.

Meskipun membuat Keris tidak serumit seperti zaman dahulu, akan tetapi tidak semua orang bisa membuat Keris. Jika dulu seorang empu membuat Keris dengan bahan yang harus dicari dari alam, dan meleburnya agar menjadi bahan yang tepat. Sekarang orang dengan sangat mudah mendapatkan bahan-bahan pembuat Keris.

“Hanya saja untuk batu meteor seperti yang terdapat pada keris-keris legendaris, sekarang diganti dengan Nikel, karena batu meteor sudah sangat jarang,” terangnya.

Pria dua anak ini juga tidak pelit dalam membagi ilmu tentang Keris dan filosofinya. Hal yang harus disiapkan dalam membuat Keris adalah bahannya. Dia menerangkan, bahan utama pembuat Keris adalah wesi (besi), wojo (baja), dan pamor (nikel).

“Untuk menempa wesi, wojo, pamor menjadi bakal keris biasanya saya memastikan dulu hari baiknya dengan pemesannya,” jelasnya.

Menempa Keris harus sebanyak mungkin dalam melipatnya, semakin banyak lipatan maka akan semakin bagus kualitas Keris yang dihasilkan. Ketika bakal Keris sudah terbentuk, maka Keris akan ditatah untuk membuat motif dan kemudian disepuh untuk mengeraskan Keris.

Untuk memunculkan pamor, maka Keris akan ditancapkan pada bubuk bata merah dengan campuran sulfur dan garam, proses ini di sebut kamal. Pada tahap ini akan memakan waktu mulai satu hingga empat minggu lamanya, tergantung motif pamor yang diinginkan. Setelah itu barulah dilakukan penjamasan dan dicuci sampai bersih.

“Biasanya untuk satu keris bisa saya selesaikan dalam waktu satu bulan,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.