Warga Ngawi Berebut Naik Kereta Belanda di PG Soedhono

Petrus - 12 May 2017
Kereta api peninggalan jaman Belanda di PG Soedhoni Ngawi, menjadi daya tarik pengunjung khususnya anak-anak untuk naik dan berkeliling pabrik (foto : Superradio/Sugeng Harianto)

SR, Ngawi – Animo warga Ngawi untuk melihat dan naik kereta peninggalan zaman Belanda di pabrik gula (PG) Soedhono ternyata sangat tinggi. Lebih dari 600 warga setiap hari datang ke PG Soedhono yang ada di Desa Tepas Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, untuk sekedar naik kereta yang berkeliling di plasemen pabrik. Tidak hanya warga Ngawi saja, warga Magetan dan Madiun pun datang untuk melihat puncak acara pembukaan giling tebu.

Erpan (12) warga Desa Bayem, Magetan mengatakan, dirinya datang bersama kedua orang tuanya untuk melihat dan naik kereta mini, dengan lokomotif peninggalan zaman Belanda.

“Rumahnya di Magetan, ingin lihat pesta buka giling dan naik kereta antik,” ungkap Erpan.

Nuril Huda, General Manager PG Soedhono, menjelaskan meski tidak gratis dan mengenakan tarif Rp 5.000 per anak, kereta itu selalu dipenuhi oleh pengunjung yang rela antri untuk sekedar naik kereta.

Mesin lokomotif peninggalan Belanda tersebut di rangkai dengan 4 gerbong, sehingga dapat menampung 57 penumpang. Warga di ajak berkeliling melihat area pabrik yang memiliki ratusan situs peninggalan Belanda.

“Selama ini warga tidak pernah masuk ke area pabrik gula semenjak di bangun pabrik ini tahun 1888, otomatis gebrakan ini disambut baik warga yang penasaran apalagi naik kereta,” jelas Nuril.

Nuril mengungkapkan warga di ajak berkeliling dengan jarak tempuh sekitar 1 Km. Dengan waktu 30 menit melihat lihat ratusan benda-benda yang sudah tidak terpakai pada peninggalan Belanda tersebut. Wisata kereta Belanda di buka sejak 24 April 2017 dan ditutup saat beroperasi giling tebu tanggal 30 Mei 2017. Pengunjung terbanyak hingga saat ini adalah anak sekolah TK, terutama karena momen ini berlangsung hanya pada masa libur giling saja.

“Nanti waktu giling dimulai, stop dulu karena relnya di pakai menarik tebu, dan momen ini menjelang pesta buka giling biasanya bulan Mei gini,” ungkap Nuril.

PG Soedhono adalah pabrik gula yang produksinya berbasis tebu dan telah beroperasi sejak tahun 1888. PG Soedhono didirikan pada tahun 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultural Maatschaapy (VVCM) zaman Belanda. Saat ini dengan jumlah karyawan 994, pabrik gula ini tiap tahun mampu memproduksi gula pasir sekitar 9.400 ton.(sh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.