Wanita Perlu Waspadai Penyakit Infeksi Saluran Kencing

Petrus - 16 June 2018

SR, Surabaya – Infeksi saluran kencing atau infeksi saluran kemim merupakan jenis infeksi yang sangat sering terjadi, terutama banyak dialami oleh kaum wanita. Infeksi ini dapat terjadi di saluran ginjal atau ureter, kandung kemih (bladder), serta salurang kencing bagian luar atau uretra.

Pada wanita, kasus ini lebih sering terjadi karena uretra wanita lebih pendek daripada uretra pria. Infeksi pada saluran kencing juga dapat dipicu oleh adanya batu di saluran kencing, yang menahan koloni kuman.

“Data statistik, resiko pada wanita itu 14 persen akan dapat menjadi penyakit ginjal kronik. Lebih tinggi sedikit dibanding laki-laki yaitu 12 persen,” kata dr. Caroline Widjaja, Sp.PD dari Rumah Sakit Katolik St. Vicentius A Paulo, RKZ Surabaya.

Air kencing atau urin manusia terdiri dari cairan, garam, dan produk buangan, namun tidak mengandung bakteri. Penyakit infeksi saluran kencing tidak semua menimbulkan gejala, atau disebut sebagai infeksi saluran kencing asimtomatis.

Namun, kadang disertai pula dengan gejala seperti nyeri pada pinggang, air seni kental, berwarna kemerahan seperti teh bahkan ada darah dalam air seni, anyang-anyangan atau air kencing sulit keluar, hingga rasa sakit pada saat atau setelah kencing.

Penyakit ini banya disebabkan oleh kebiasaan yang kurang sehat, seperti kurang minum air putih, menahan kencing, gaya hidup yg kurang sehat, terlalu banyak mengkonsumsi vitamin c dosis tinggi, dan penyakit serta kelainan lain yang menjadi pemicu terjadinya infeksi saluran kemih.

Hal ini karena urin yang melewati saluran kemih mengandung asam urat, sehingga hal ini dapat memicu terjadinya batu ginjal pada saluran kemih yang dapat menyebabkan peradangan pada saluran kantung kemih.

“Yang penting memang pola hidup sehat, seperti biasakan minum air putih cukup, minmal satu setengah liter setiap hari, jangan suka menahan kencing atau pipis,” kata dr. Caroline.

Deteksi dini terhadap penyakit infeski saluran kencing dapat meminimalisir resiko penyakit ginjal.

“Kita bisa waspadai sebagai salah satu gejala penyakit ginjal, lebih baik diperiksakan tes kencingnya. Kalau ada protein lebih bisa ke penyakit Lupus, karena adanya protein itu istilahnya ada yang bocor dari ginjal,” lanjutnya.

Supaya tidak sampai menjadi infeksi kronik, deteksi dini perlu dilakukan diantaranya dengan mengontrol tensi darah, maupun gejala lain yang dirasakan seperti nyeri pinggang.

“Meski waktu ke infeksi kronik butuh tahunan, namun gejalanya perlu segera diatasi atau diobati. Supaya tidak sampai menyerang ginjal dan mengharuskan transplantasi. Biasakan di Indonesia, penyebab utama infeksi saluran kencing yang berpotensi ke ginjal, paling banyak hipertensi dan diabet,” ujarnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.