Wali Kota Surabaya Resmikan Hutan Kota di Lontar

Yovie Wicaksono - 3 February 2018
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menanam pohon di hutan kota Lontar (foto : Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya meresmikan hutan kota di Jalan Lempung Perdana, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya. Hal ini sebagai salah satu upaya Pemkot Surabaya untuk menambah ruang terbuka hijau (RTH) di beberapa titik di Kota Surabaya, berupa taman-taman dan hutan kota.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menandai peresmian hutan kota Lontar dengan menanam 200 pohon, dari 1.000 pohon yang ditargetkan. Angka itu dapat terus bertambah hingga mencapai 4.000 pohon dengan melibatkan peran serta masyarakat.

Dibuatnya hutan kota di kawasan Lontar, menurut Risma, sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi banjir yang kerap terjadi di kawasan itu. Keberadaan hutan kota sebagai daerah resapan, diharapkan dapat mengurangi resiko banjir di kawasan itu.

“Salah satu treatment yang kami lakukan adalah membuat hutan kota dan membuat waduk,” ujar Risma.

Kawasan Lontar, kata Risma, merupakan wilayah yang tertinggi di Surabaya. Dengan keberadaan hutan kota di wilayah itu, maka pohon-pohon yang ditanam dapat menyerap air sehingga tidak sampai turun ke wilayah di bawahnya.

“Teorinya memang seperti itu. Kayak hutan-hutan di gunung kan seperti itu. Begitu hutan itu gundul, maka kemudian muncul air bah dan juga longsor,” terang Risma.

Risma memastikan akan menambah terus hutan kota dengan menanami banyak pohon di Surabaya, untuk mengurangi resiko bencana seperti banjir dan longsor.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, Joestamadji mengatakan, pihaknya akan menanami hutan kota dengan aneka tanamkan produktif, seperti Jambu, Belimbing, Matoa dan beberapa jenis tanaman buah lainnya.

Hutan kota ini nantinya juga dapat dimanfaatkan oleh sekolah di sekitarnya, seperti SDN Lontar 2 dan SMPN 47 Surabaya. Selain sebagai hutan kota, juga dapat dimanfaatkan untuk tempat wisata dan rekreasi keluarga.

“Nanti kalau sudah ditinggikan dan konturnya sudah bagus, maka kita akan tindaklanjuti dengan penanaman,” ujarnya.

Selain hutan kota di kawasan Lontar, sebelumnya juga ada hutan kota serupa seperti di Pakal 1 dan Pakal 2, Sambikerep, Kelurahan Jeruk, dan Sumur Welut. Dari semua hutan kota itu, semua memiliki bozem sebagai pengendali air.

“Jadi, siklus hidrologinya terpenuhi. Hujan turun di pohon, turun pelan-pelan masuk ke bozem terjadi penguapan, turun lagi siklusnya jadi hujan, tapi tetap kita punya air tanah,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.