Usaha Pembuatan Tusuk Sate Ponorogo yang Menguntungkan

Petrus - 15 March 2018
Didik di tempat usaha pembuatan tusuk sate miliknya (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Jika dahulu tusuk sate menggunakan lidi, sekarang sudah banyak yang beralih menggunakan bahan dari bambu. Hal ini yang menginspirasi Didik (36 tahun) warga Desa Turi, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, untuk membuka usaha pembuatan tusuk sate. Tidak tanggung-tanggung, omset yang dikantonginya dari membuat tusuk sate mencapai belasan juta rupiah dalam satu bulan.

Usaha yang sudah ditekuninya lebih dari setahun ini awalnya mengalami kesulitan bahan baku, karena bambu yang digunakan memang sulit dicari di Ponorogo. Bahkan tidak jarang Didik sampai keluar kota untuk mencari bahan bambu jenis petung dan ori.

“Saya menggunakan petung karena bambunya besar, tapi di Ponorogo jarang, jadi saya harus mencari sendiri ke kota lain,” kata Didik, Kamis (15/3/2018).

Didik menjelaskan untuk bambu ori di sekitar Ponorogo memang banyak, akan tetapi karena bambunya kecil sehingga hasil produksinya sedikit. Sedangkan bambu petung yang berukuran besar memang bisa menghasilkan banyak tusuk sate, tetapi harus mencari di luar kota seperti Trenggalek, Wonogiri, dan Pacitan.

Dibantu 3 pekerjanya, dalam satu bulan Didik bisa menghasilkan 1 ton lebih tusuk sate siap pakai. Selain tusuk sate, Didik juga membuat tusuk makanan lain dengan panjang yang disesuaikan pesanan pelanggan. Untuk satu kilogram tusuk sate dihargai Rp. 12 ribu.

“Selain tusuk sate saya juga membuat untuk tusuk sempolan dan cilok, panjangnya bervariasi antara 20 cm sampai 30 cm, tergantung pesanan,” terangnya.

Dalam proses pembuatannya bambu yang akan digunakan dipotong-potong sesuai ukuran. Ketika sudah sudah dicacah dan dihaluskan sesuai ukuran tusuk sate, kemudian melalui proses oven untuk pengeringan. Saat proses oven ini menggunakan uap belerang yang menjadikan tusuk sate bisa tahan lama.

“Tusuk sate buatan saya bisa bertahan sampai 6 bulan lebih tanpa berjamur,” tuturnya.

Usaha yang dilakoninya bukan tanpa kendala, awal merintis usahanya Didik pernah kesulitan untuk memasarkan produknya.

“Karena semakin banyak pesanan, sekarang yang menjadi masalah adalah dinamo pada motor listrik untuk mencacah tusuk sate sering terbakar,” pungkasnya.

Buah keuletannya dalam memasarkan dagangannya serta upaya meyakinkan pembelinya bahwa tusuk sate buatannya bisa tahan lama, sekarang justru pembeli yang datang ke rumahnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.