Ubah Pola Pikir, Kunci Sukses Kulon Progo

Yovie Wicaksono - 16 August 2017
Toko MIlik Rakyat (Tomira) di Kulon Progo, Jogjakarta. Foto :(www.ohthatisnice.com)

SR, Kulon Progo – Mengubah pola pikir adalah kunci sukses dalam sebuah perubahan. Filosofi inilah yang dipegang betul Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo. Kepada Super Radio, bupati yang juga berprofesi sebagai dokter ini mengatakan, perubahan mendasar yang harus dilakukan adalah mindset dari bekerja menjadi berkarya.

“Kita harus bisa berkarya, bukan hanya bekerja. Bekerja itu hanya menyelesaikan tupoksi, tapi kalau berkarya adalah bekerja non linear dan tidak hanya rutinitas, sehingga apa-apa menjadi lebih cepat,” ujar Hasto, Rabu (16/8/2017).

Selain mengubah mindset, cara lainnya adalah harus menyertakan kekuatan idelogi dalam setiap program. Ideologi ini penting untuk menciptakan semangat yang militan.  Di Kulon Progo, salah satu ideologi yang dibangun sejak awal adalah semangat gotong royong berdasarkan falsafah Pancasila.

“Gotong royong masih sangat relevan untuk saat ini. Rakyat masih sensitif dengan pemberian non material. Contohnya adalah ketika ada tetangga yang datang untuk ikut gotong royong, maka akan ada balasan yang berlipat. Ini lokal genius di Kulon Progo yang saya manfaatkan,” kata Hasto.

Bupati yang diusung oleh PDI Perjuangan ini mengatakan, untuk mengubah pola pikir tidaklah mudah. Setidaknya dibutuhkan waktu dua tahun untuk melakukan perubahan di setiap program, penyebabnya adalah mengubah pedoman umum yang selama ini berlaku. Mengubah pedoman umum ini, tentunya dengan mempertimbangkan segala resiko yang terjadi.

Salah satu cara mengubah pedoman umum adalah dengan membuat Perda yang pro rakyat. Diantaranya, Perda No 11 tahun 2011 tentang Perlindungan pasar tradisional serta penataan pusat perbelanjaan dan toko modern.

Dalam pasal 14 huruf C disebutkan, “Toko Modern yang berstatus waralaba dan/atau berstatus cabang tidak boleh berjarak kurang dari 1.000 m (seribu meter) dengan Pasar Tradisional.” Konsekuensi dari peraturan tersebut, semua minimarket modern dengan jarak kurang dari 1.000 meter harus menentukan pilihan, yaitu tak diperpanjang izin, tutup, atau pengambil alihan oleh Koperasi (take over).

Dari Perda inilah, kemudian toko modern seperti Alfamart bersedia di take over yang bertujuan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat yang bersifat kemitraan dengan Koperasi maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sehingga dapat menjadi minimarketnya rakyat Kulon Progo.

Setelah bekerja sama dengan koperasi dan UMKM, Alfamart berganti Tomira atau Toko MiliK Rakyat. “Penandatanganan Nota Kesepahaman antara pengelola Alfamart,  yaitu PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dengan Pemkab Kulon Progo pada hari Senin, 1 September 2014,” terang Hasto.

Hasto tidak khawatir program yang telah disusun dan berjalan akan berhenti ketika tidak lagi menjabat sebagai bupati, karena sudah ada jaminan melalui sistem, melalui Perda.  Keyakinan lainnya adalah mengguritanya sistem ekonomi rakyat yang sudah berjalan selama ini.

“Dengan menggurita terhadap ekonomi rakyat, akan semakin susah dipatahkan atau diubah,”pungkasnya. (ng/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.