Tri Rismaharini Ajak Negara-negara Dunia Berkolaborasi Atasi Perubahan Iklim

Petrus - 28 September 2018
SR, New York – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menghadiri acara One Planet Summit, di New York, Amerika Seikat, Kamis (27/9/2018). Tri.Rismaharini hadir memenuhi undangan Presiden Perancis Emmanuel Macron, untuk menjadi salah satu pembicara dalam sebuah forum diskusi.
Pada forum dunia yang sangat terbatas itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini merupakan satu-satunya kepala daerah yang menjadi pembicara, karena forum itu dihadiri oleh pejabat setingkat presiden atau perdana menteri.
Forum One Planet Summit ini mengangkat topik perubahan iklim, dimana Tri Rismaharini berkesempatan mengajak berbagai perwakilan negara di dunia untuk bekerja sama dan berkolaborasi, untuk mengamankan dunia dari perubahan iklim. Hal ini juga berkaitan dengan komitmen negara-negara di dunia, untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris yang merupakan upaya global dalam mengatasi dampak dari perubahan iklim di dunia.
“Hanya dengan bekerja sama kita dapat membuat kemajuan yang signifikan, mengamankan dunia dari perubahan iklim  dan bisa memenuhi tujuan Perjanjian Paris,” kata Tri Rismaharini.
“Kongres ini menciptakan ruang untuk berkolaborasi, sehingga kami berharap dapat bekerja sama untuk mengatasi tantangan perubahan iklim secara bersama-sama,” lanjut Risma.
Menurut Risma, kolaborasi mengatasi masalah perubahan iklim telah diterapkan di Kota Surabaya, untuk menjamin keberlangsungan lingkungan hidup di tingkat lokal. Melalui upaya itu, Hasilnya, Kota Surabaya telah berhasil menurunkan suhu udara perkotaan hingga 2 derajat celcius.
Pencapaian ini dapat terwujud, setelah Pemerintah Kota Surabaya menciptakan 45 hektar hutan kota, 35 hektar median hijau, dan 420 taman kota, dengan luas total sekitar 133 hektar ruang hijau.
“Karena kami sadar bahwa keuangan kami terbatas, maka kami lebih memanfaatkan kekuatan alam dan masyarakat Surabaya. Inilah kekuatan kami,” ujar Risma.
Wali Kota perempuan yang pertama di Surabaya ini mengaku, memiliki konsep yang sangat populer di Kota Surabaya, yaitu Reduce, Reuse, Recycle atau 3 R. Konsep ini telah membantu mengubah pola pikir warga, dan membuat semua orang ingin menjadi bagian dalam membuat Kota Surabaya lebih hijau, lebih bersih dan lebih sehat.
Risma mencontohkan banyaknya kampung-kampung di Surabaya yang mendirikan Bank Sampah, sebagai salah satu cara mengurangi volume sampah sejak di TPA sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi pada sampah yang dapat dipilah. Pemkot Surabaya mengapresiasi langkah itu, dengan secara rutin menggelar festival ‘bebas dari sampah’.
“Kami juga memiliki Suroboyo Bus yang merupakan bus pertama dimana penumpangnya dapat naik bus hanya dengan menggunakan botol plastik sebagai alat pembayaran. Ini tidak hanya mendorong orang untuk berpindah dari angkutan pribadi ke angkutan umum, tapi juga membantu upaya pengelolaan sampah dan daur ulang sampah di Surabaya. Kami dapat mengurangi 10 persen dari limbah yang dibuang ke TPA setiap tahun,” papar Risma.
Selain itu, Surabaya terus mengembangkan pemanfaatan solar cell, sebagai implementasi proyek pemanfaatan limbah menjadi energi listrik di TPA, mengkonversi bahan bakar fosil menjadi gas, dan menerapkan kebijakan pada Green Building.
“Proyek revitalisasi sungai juga dilakukan dengan mengubah daerah kumuh di sepanjang tepi sungai, menjadi ruang hijau dan taman tematik untuk mempertahankan fungsi sungai,” kata Risma.
Lewat berbagai upaya itu, saat ini warga Surabaya dapat menikmati pengurangan konsumsi energi, indeks kualitas udara menjadi lebih baik, penurunan tingkat penyakit dan kemiskinan, serta pengurangan banjir yang signifikan.
“Itulah keberhasilan implementasi kebijakan iklim di tingkat lokal, yaitu Kota Surabaya,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.