Tradisi Ithuk-Ithukan, Ucapan Syukur Atas Melimpahnya Air

Petrus - 26 July 2018

SR, Banyuwangi – Masyarakat Suku Osing memiliki kekayaan tradisi yang tak lekang oleh zaman. Salah satu-satunya adalah Ithuk-Ithukan yang terus dijalani warga Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya sumber mata air di desa.

Tradisi adat ituk-itukan selalu digelar oleh masyarakat Dusun Jopuro di setiap tanggal 12 Zulkaidah yang pada tahun 2018 ini tepat tanggal 25 Juli. Puluhan sampai ratusan peteteng atau ingkung ayam yang disajikan kedalam ithuk, disunggi warga dan di arak dari pusat pemukiman Rejopuro menuju sumber air yang bernama Sumber Hajar.

Kemudian peteteng itu dimakan bersama-sama setelah berdoa bersama di sumber air yang dimaksud. Sumber Hajar sangat penting bagi masyarakat Rejopuro, karena airnya yang sangat melimpah dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kebutuhan sehari-hari.

Maksut digelarnya tradisi tersebut adalah melanjutkan seruan leluhur Rejopuro yang bernama Buyut Wuku, kepada masyarakat untuk saling memberi makanan yang umumnya berwadah ithuk, supaya di Rejopuro tidak ada orang yang kelaparan. Setelah diadakannya ithuk-ithukan masyarakat Rejopuro melaksanakan tradisi membaca lontar, atau yang disebut mocoan pada malam harinya.

Siang itu, puluhan ibu warga Dusun Rejopuro berbaris rapi dalam busana khas Suku Osing. Para lelaki mengenakan baju hitam-hitam dan kaum perempuannya memakai kebaya hitam dengan bawahan jarik Banyuwangi.

Di atas kepala mereka tersunggi baskom berisi ithuk-ithukan, yang di dalamnya ada makanan menu sederhana. Ithuk adalah bahasa setempat yang berarti alas makan yang terbuat dari daun pisang. Ratusan Ithuk itu siap diarak warga dusun dengan berbagai menu lainnya, seperti ingkung ayam bakar.

Usai berdoa bersama, arak-arakan itu kemudian dilepas oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Komandan Latamal V, Laksamana Pertama TNI Edwin, juga turut hadir dalam kemeriahan acara itu. Danlantamal Edwin hadir dalam rangka meresmikan Kampung Sidat, yang merupakan program kolaboratif antara Pemkab Banyuwangi dengan TNI AL.

“Tradisi ini adalah salah satu wajah Indonesia, dimana nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan menjadi energi yang menyatukan warga. Saya bangga dengan Banyuwangi, disini meskipun daerahnya terus maju dan modern tapi tidak meninggalkan adat tradisi yang di dijaga oleh warga,” kata Danlatamal Edwin.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang mengajarkan maayarakat untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam. Kenduri yang digelar di sumber air, menandakan begitu pentingnya setiap manusia untuk menjaga sumber air sebagai salah satu sumber kehidupan manusia.

“Kami akan terus menjada tradisi semacam ini di tengah modernitas yang terus tumbuh. Tradisi yang diwariskan leluhur ini, menunjukkan bagaimana kita manusia harus menghormati dan menjaga alam ini dengan bijaksana,” ujar Anas.

Sesepuh Dusun Rejopuro, Sarino mengatakan, tradisi ithuk-ithukan ini digelar setiap 12 Dulqaidah (bulan ke sebelas penanggalan Hijriyah). Tradisi ini ini selain sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat dari Yang Maha Agung, atas sumber daya alam yang melimpah, ini juga digelar agar masyarakat bisa saling kepethuk (bertemu).

“Ithuk ini juga diambil dari kata kepethuk. Thuk lalu menjadi ithuk. Banyaknya ithuk yang disajikan ini menandakan jangan sampai ada masyarakat yang lapar. Semua harus kebagian, bahkan yang sedang sakit sekali pun akan kami antarkan ithuk ini ke rumahnya,” ujar Sarino.

Tradisi ini, imbuh Sarino, merupakan bentuk syukur warga atas sumber air di desanya yang melimpah dan tidak pernah kering.

“Kami bisa mengairi sawah dan melakukan aktivitas lainnya di sumber tersebut. Berkat sumber air itu pula, hidup kami disini jadi terasa nikmat, warga menjadi dekat satu sama lain dan mudah memaafkan, itu sebabnya dusun ini dinamakan Dusun Rejopuro. Rejo artinya ramai, Puro artinya memaafkan,” pungkas Sarino.(wan/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.