Tradisi Barong Ider Bumi Jadi Daya Tarik Warga Banyuwangi dan Wisatawan

Petrus - 28 June 2017
Tradisi adat masyarakat Using, Barong Ider Bumi yang dilaksanakan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Sejumlah atraksi wisata budaya digelar di Banyuwangi selama libur Lebaran. Di antaranya adalah tradisi Barong Ider Bumi warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, yang merupakan salah satu basis masyarakat adat Using, masyarakat asli Banyuwangi.

Tradisi yang digelar untuk mengusir bencana (bala) dari desa ini, dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pada Senin (26/6/2017). Pembukaan acara ditandai dengan penarikan ketupat luar berisi beras kuning, oleh Abdullah Azwar Anas dan Menteri Pariwisata Arif Yahya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tradisi ini merupakan bagian dari budaya yang hidup di masyarakat, yang harus terus dilestarikan setiap tahunnya. Tradisi yang tumbuh dari masyarakat ini kemudian diperkenalkan kepada masyarakat luas dalam balutan pariwisata melalui rangkaian Banyuwangi Festival.

“Salah satu ciri Banyuwangi Festival sebagai sarana promosi wisata Banyuwangi adalah berakar pada budaya setempat. Saat daerah lain membawa tema global ke tingkat lokal, Banyuwangi justru sangat bangga memperkenalkan budaya lokal ke tingkat global. Kami ingin masyarakat luas tahu berapa agungnya tradisi lokal ini,” kata Azwar Anas.

Menurut Azwar Anas, Desa Kemiren adalah salah satu desa di Banyuwangi yang pengembangan budayanya tumbuh luar biasa. Di desa ini sudah tumbuh homestay dan sejumlah tempat kuliner yang dipadukan dengan aktivitas sanggar seni.

“Aktivitas mendukung pariwisata sudah mulai tumbuh. Sangar-sanggar seni hidup. Ibu-ibu bahkan banyak sudah banyak yang mendapat orderan seiiring dengan makin diminatinya masakan khas Banyuwangi. Masyarakat Kemiren sudah siap menyambut wisatawan yang datang ke sini,” kata Anas.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan apresiasinya atas konsistensi Banyuwangi yang terus mengangkat tradisi budayanya, menjadi sebuah atraksi yang menarik. Apa yang dilakukan masyarakat Desa Kemiren dengan mengangkat tradisinya sebagai atraksi budaya ini, dinilai sudah tepat untuk pengembangan pariwisata.

“Desa Kemiren sudah bagus untuk atraksi budayanya. Ini penting, karena wisatawan yang datang ke Indonesia, 60 persennya karena tertarik budaya,” kata Arief.

Dalam kesempatan itu, Arief juga menyerahkan bantuan barong dan seperangkat gamelan untuk warga Desa Kemiren.

“Bantuan barong tadi saya serahkan ke BUMDes, karena memang desa ini basisnya budaya. Budaya harus dilestarikan bila memang akan dikembangkan menjadi atraksi. Budaya harus dilestarikan karena akan menyejahterakan,” jelas Arief.

Dalam kesempatan itu, Arief dan Anas diajak warga mengelilingi desa sambil menaiki kuda. Tentu saja juga ada barong yang ikut berkeliling desa, yang memang diyakini dapat mengusir bencana ataua malapetaka.

Saat berada di sisi barat perbatasan desa, Arief Yahya dan Azwar Anas bersama warga turut berebut pisang sebagai tanda keberkahan. Selanjutnya mereka naik kuda, kembali menuju timur batas desa untuk melakukan kenduri masal sebagai penutup tradisi tersebut. Menu kendurinya pun khas masyarakat Using, yakni pecel pitik.

Tradisi adat tersebut menarik perhatian sejumlah masyarakat Banyuwangi yang sedang menikmati libur Lebaran. Bahkan tidak sedikit pemudik dari luar daerah yang saat itu pulang ke Banyuwangi, juga ikut menyaksikan acara tradisi bersih desa tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Alek Riyanto, salah satu pemudik dari Jakarta yang menyampaikan kekagumannya dengan tradisi adat masyarakat Banyuwangi

“Saya jauh-jauh dari Jakarta, saat pulang ke tanah kelahiran saya ingin menyaksikan acara ini. Bahkan keluarga saya juga mengabadikan acara ini dalam bentuk video yang nanti akan saya pertontonkan kepada kawan-kawan saya di Jakarta,” ujarnya.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.