Tim Brigade Evakuasi Popok Susur Sungai Brantas di Kediri

Yovie Wicaksono - 25 September 2017
Aktivis Ecoton mengevakuasi sampah popok bayi yang dbuang masyarakat langsung ke sungai Brantas di Kediri (foto : Superradio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Setelah melakukan evakuasi limbah popok bayi di 5 kabupaten/kota di Jawa Timur, Tim Brigade Evakuasi Popok kali ini datang ke Kota Kediri untuk melakukan hal yang sama. Sasaran yang dituju ada di tiga titik lokasi, diantaranya sungai Brantas di dekat Stadion Brawijaya Kediri, serta sungai Brantas di wilayah Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Dengan peralatan jaring, 6 orang turun ke bawah sungai untuk mengambil sampah popok bayi. Limbah popok ini kemudian dievakuasi ke atas dan dikumpulkan menjadi satu. Menurut Andreas Agus Mistanto, bagian Edukasi dan Program Ecoton, zat kimia yang terkandung dalam popok bayi sangat berbahaya bagi lingkungan.

“Kandungan yang ada pada popok itu paling berbahaya gel-nya. Karena bahan kimia itu dapat menganggu ekosistem,” kata Andreas, Senin (25/9/2017).

Ditambahkan oleh Andreas, selain merusak ekosistem sungai Brantas, kandungan zat berbahaya dalam popok ini juga dapat mengubah jenis kelamin ikan menjadi bencong.

“Selain mencemari sungai, ternyata bahan plastik gel di popok mengakibatkan interseksual pada ikan,” ujarnya.

Masih banyaknya masyarakat yang membuang popok di sungai, dilatarbelakangi mitos yang beredar di masyarakat bahwa bila popok dibakar akan meyebabkan pemakai popok mengalami gangguan atau sakit kulit.

“Karena dia punya mitos, kalau dibakar popoknya akan bikin siluten, itu yang tidak benar. Padahal yang menyebabkan bahan dari popok itu sendiri, karena terlalu kuat menyerap air sehingga terjadi kelembaban lalu terjadi iritasi,” imbuhnya.

Ecoton mendorong kabupaten dan kota yang dilalui sungai, agar memiliki sanitary landfill pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Hal ini karena bahan popok merupakan residu yang tidak dapat dioleh selain melalui sanitary landfill.

“Kali Brantas merupakan sungai strategis nasional, di setiap anak sungai atau cabangnya banyak masyarakat yang memanfaatkannya. 90 persen kota Surabaya mengambil air minumnya dari sungai Brantas. Tidak hanya itu, daerah lain seperti Gresik, Mojokerto, Jombang termasuk Kediri mengambil air minumnya dari sungai Brantas,” ujar Andreas.

Dari 6 wilayah kota dan kabupaten yang dilalui sungai Brantas, Surabaya menjadi kota yang paling banyak limbah popoknya dibuat ke sungai. Hal ini karena Surabaya merupakan muara atau persinggahan terakhir mengalirnya sungai Brantas dari beberapa kota.

“Kalau di Surabaya, selama 4 hari dapat 3 kwintal popok,” tukas Andreas.(fl/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.