Tiga Faktor Terkait Intoleransi dan Radikalisme di Kalangan Guru

Petrus - 17 October 2018

SR, Jakarta – Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat, UIN Jakarta, Saiful Umam mengatakan, ada tiga faktor yang terkait dengan intoleransi dan radikalisme guru. Faktor itu antara lain pandangan Islamis, aspek demografis, dan Ormas serta sumber pengetahuan keislaman.

“Tiga hal inilah yang dapat dikaitkan dengan intoleransi dan radikalisme guru,” ujar Saiful Umam, di Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Dijelaskan, pandangan ke-Islaman guru mengacu pada aspek bagaimana syariat Islam diterapkan dalam semua ranah politik, memperlihatkan corak yang disebut sebagai Islamisme yang radikal. Menurutnya, pemahaman Islamis-radikal menekankan pentingnya syariat dijadikan sumber referensi utama dalam semua aspek kehidupan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40,36 persen guru setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada dalam Al Quran, sehingga Muslim tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat, sebanyak 82,77 persen guru setuju bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi segala persoalan masyarakat, sebanyak 62,22 persen guru setuju bahwa hanya sistem pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam yang terbaik untuk negeri ini.

Sebanyak 75,98 persen guru setuju bahwa pemerintah harus memberlakukan syariat Islam bagi para pemeluknya, sebanyak 79,72 persen guru setuju bahwa dalam memilih pemimpin (Presiden, Gubernur, Bupati/ Wali Kota) umat Islam wajib memilih calon pemimpin yang memperjuangkan penerapan syariat Islam, sebanyak 23,42 persen guru setuju bahwa pemerintahan Indonesia yang berdasarkan pada Panasila dan UUD 1945 adalah thaghut karena telah mengambil hak Allah sebagai pembuat hukum, dan sebanyak 64,23 persen guru setuju bahwa non-Muslim tidak diperbolehkan menjadi Presiden di Indonesa.

“Guru yang setuju bahwa umat Islam tidak perlu lagi mempelajari sumber-sumber pengetahuan dari Barat mencapai 40,36 persen. Pandangan ini dapat ditafsirkan sebagai keyakinan mereka tentang Islam yang absolute, sehingga harus menjadi satu-satunya sumber rujukan dalam memahami berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pengetahuan,” kata Saiful.

Dalam aspek demografis, penelitian PPIM dilakukan berdasarkan jenis kelamin, sekolah versus madrasah, negeri versus swasta, mata pelajaran yang diampu guru, penghasilan, jenjang pendidikan, dan usia guru. Hasilnya, guru perempuan memiliki opini intoleran yang lebih tinggi pada pemeluk agama lain, dibandingkan dengan guru laki-laki. Kemudian, guru perempuan juga memiliki opini dan intensi-aksi radikal yang lebih tinggi dibandingkan guru laki-laki.

“Semakin rendah penghasilan, maka semakin tinggi opini dan intensi-aksi radikal. Kemudian, semakin tinggi usia guru, semakin tinggi opini toleransi eksternalnya dan makin rendah opini serta intensi aksi radikalnya,” kata Saiful.

Sementara peran Ormas Islam terhadap intoleransi dan radikalisme turut menghasilkan kecenderungan konservatif dan gelaja intoleran bahkan radikalisme. Hasil penelitian PPIM menunjukkan guru merasa paling dekat dengan lima organisasi masyarakat yaitu NU, Muhammadiyah, Nahdhatul Wathan, Majlis Tafsir Al Quran dan Front Pembela Islam.

Kemudian, Ustadz yang dijadikan panutan oleh guru adalah Ustadz Abdul Somad (29,31 persen). Aa’ Gym (11,63 persen), Mama Dedeh (9,66 persen), Prof. Dr. Quraish Shihab (5,41 persen), Ustadz Adi Hidayat (3,58 persen), Ustadz Maulana (3,46 persen), dan KH. Mustofa Bisri (2,91 persen).

“Ada pengaruh tokoh panutan agama terhadap toleransi pada pemeluk agama lain dan radikalisme, baik pada level opininya maupun intensi aksinya,” kata Saiful.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.