Temukan Microplastik Dalam Perut Ikan, Ecoton Ingatkan Bahaya Sampah Popok

Petrus - 31 July 2018
Aktivis Ecoton kerja bakti membersihkan sungai dan jembatan dari sampah popok (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Puluhan aktivis lingkungan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama sejumlah mahasiswa pecinta lingkungan di Surabaya dan Sidoarjo, menggelar aksi bersih-bersih jembatan sungai Surabaya, di kawasan jembatan Karang Pilang, Senin (30/7/2018). Aksi ini dilakukan untuk membersihkan jembatan dan daerah pinggir sungai dari tumpukan sampah popok dan plastik, yang sengaja dibuang oleh warga.

Banyaknya sampah popok yang dibuang oleh warga ke arah sungai, menjadi bukti masih rendahnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, khususnya dengan membuang popok sekali pakai ke sungai. Pemerintah daerah juga dianggap kurang peduli terhadap kebersihan dan kesehatan masyarakat, karena membiarkan sungai dijadikan tempat pembuangan sampah.

Peneliti Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho mengatakan, sampah popok yang banyak dibuang ke sungai selain mencemari sumber air baku perusahaan daerah air minum (PDAM), juga mengakibatkan ikan terpapar limbah plastik. Hasil penelitian dan pembedahan ikan yang dilakukan Ecoton menyebutkan, terdapat serpihan dan serabut plastik dalam lambung ikan, yang diduga berasal dari sampah popok sekali pakai.

“Dalam pengamatan tentang lambung ikan, di sana kita menemukan banyak sekali potensial plastik yang sudah termakan oleh ikan kita, salah satunya adalah dalam bentuk serabut, dan dalam bentuk serpihan-serpihan kecil, itu yang kita duga sebagai plastik sebenarnya. Dari lima, enam jenis ikan yang kita temukan, ternyata sudah empat yang kita temukan memakan plastik tadi,” kata Andreas.

“Bentuknya masih mesoplastic, serpihan yang bisa dilihat tapi dengan alat bantu yang sederhana. Yang microplastic itu yang kita akan melakukan kerja sama dengan kawan-kawan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga,” imbuhnya.

Peneliti Ecoton, Riska Darmawanti menambahkan, bukti adanya microplastic di dalam tubuh ikan dibuktikan dari penelitian sample ikan yang diambil dari sejumlah lokasi sungai di Sidoarjo dan Surabaya.

Tidak hanya sungai di Surabaya, sampah popok juga banyak ditemukan di Jombang, Malang, dan Batu. Ini membuktikan bahwa sampah popok yang dibuang ke sungai telah mengancam kelestarian ikan asli sungai-sungai di Jawa Timur.

“Jadi kami itu ambil sample ikan di Wringinanom, yang notabene adalah hulu sungai Brantas, dan di daerah hilir sekitar daerah Kenjeran. Nah itu menunjukkan bahwa di dalam perut ikan itu sudah ketemu microfiber. Sebenarnya adalah serat-serat dari popok yang terlepas ke sungai, kemudian dimakan ikan,” kata Riska.

Temuan microplastik dalam tubuh ikan, seperti jendil, nila, rengkik, keting, dan bader, harus menjadi perhatian masyarakat. Selain itu, pemerintah selaku pihak yang memiliki kewenangan mengelola sungai, juga harus turun tangan mengatasi masalah ini.

Andreas mengatakan, bahan-bahan plastik yang ada di dalam tubuh ikan ternyata mampu mengikat bahan pencemar atau polutan lain yang ada di dalam sungai, sehingga sangat berbahaya bila manusia mengkonsumsi ikan maupun meminum air dari sungai yang tercemar sampah popok.

“Ketika sudah jadi micro, plastik-plastik tadi mengikat bahan-bahan pencemar yang ada di sekitarnya, itu yang sebenarnya lebih berbahaya, yang bisa masuk ke dalam tubuh ikan dan pada akhirnya kita juga akan memakan ikan itu tadi,” lanjut Andreas.

Riska mengungkapkan, untuk mengatasi masalah sampah popok, masyarakat harus disadarkan mengenai bahaya sampah popok dan sampah plastik yang dibuang ke sungai. Masyarakat harus dapat diorganisir agar mau mengelola sampah popoknya sendiri. Sementara, pemerintah harus menyediakan tempat penampungan maupun transportasi untuk mengangkut sampah popok sampai ke tempat pembuangan akhir sampah.

“Sebenarnya yang penting itu adalah bagaimana kemudian mengorganisir masyarakat untuk dia bisa mengelola sampah popoknya. Kami juga bekerja sama dengan dinas-dinas lingkungan hidup, untuk menyediakan dropo, droping point, sehingga masyarakat bisa menyerahkan popok yang di droping point, dan ada transportasi yang mengangkut ke TPA (tempat pembuangan akhir sampah),” tandas Riska.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.