Tempat Inspirasi Bung Karno soal Pancasila

Yovie Wicaksono - 12 August 2018
Relief Garudya di Candi Kidal, Menjadi Inspirasi Bung Karno soal Pancasila. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Malang –  Candi Kidal yang berada di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang memiliki keunikan tersendiri, yakni terdapat relief Garudya di masing-masing sisinya.

Juru pelihara Candi Kidal, Romlah mengatakan, relief Garudya terdapat di sisi timur, selatan dan utara candi. Untuk membaca relief ini harus prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam) dari arah selatan ke utara.

Relief di sisi selatan berupa Garudya menyangga para ular, di sisi timur berupa Garudya membawa guci tempat Tirta Amerta, dan relief utara berupa Garudya menggendong Dewi Winata, yaitu ibu Garudya atau yang menceritakan tentang seorang anak yang berbakti kepada orang tua.

Menurut Romlah, relief Garudya di Candi Kidal, menjadi inspirasi bagi Bung Karno dalam menjadikan Burung Garuda sebagai lambang negara dan Pancasila sebagai dasar negara.

“Presiden Bung Karno pernah menyuruh salah satu jendralnya ke Candi Kidal untuk melihat cerita dari relief Garudya. Dari situ Bung Karno memiliki inspirasi bahwa Garudya di Candi Kidal bisa menjadi lambang negara Indonesia, yaitu Burung Garuda. Bung Karno menilai ada persamaan filosofi, yakni membebaskan Indonesia bumi pertiwi dari para penjajah, seperti sosok Garudya yang membebaskan ibunya dari perbudakan para dewa,”  ujarnya kepada Super Radio, Minggu (12/8/2018).

Selain relief Garudya, di setiap sudut kaki candi terdapat enam singa penyangga atau singa murti sebagai simbol kekuatan candi, dan dikiri kanan singa murti ada ornamen Medallion yang melambangkan satu tujuan serta ornamen Purnakumba atau Jambangan yang melambangkan kebangkitan dari kematian.

Candi  Kidal bercorak Hindu dan didirikan  Prabu Mahisa Wonga Teleng (anak dari Ken Arok dan Ken Dedes, sekaligus menjadi saudara satu ibu lain ayah dengan Anusopati yang merupakan anak dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes) sebagai tempat pendarmaan Raja Anusapati  pada masa kejayaan Raja Wisnuwardhana.

Berdasarkan kitab Negarakertagama, Candi Kidal didirikan 1248 Masehi dan selesai 1260 Masehi bersamaan dengan upacara Sradha atau tepat 12 tahun setelah wafatnya Raja Anusapati.

Menurut Romlah, penamaan Candi Kidal ada tiga versi. “Penamaan Candi Kidal sendiri memiliki tiga versi, yang pertama karena candi ini berada di desa Kidal, atau lebih tepatnya desa Rejokidal. Versi kedua,  kidal dalam bahasa jawa adalah sebelah kiri, dimana Raja Anusapati itu anak tiri dari Ken Arok, konon anak tiri tidak disamakan dengan anak utama (sebelah kanan diutamakan daripada sebelah kiri). Dan versi ketiga adalah kidal juga berarti selatan, karena candi kidal berada di bagian selatan dari Kerajaan Singosari yang ada di sebelah utara,kata juru pelihara generasi ke 4 ini.

Candi Kidal di desa Rejokidal, kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

 

Candi Kidal dipugar untuk yang pertama kali pada tahun 1986-1988 secara fisik dan penataan lingkungannya, lalu pada tahun 1986-1990 dipugar total oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

“Pada saat dipugar tahun 1986-1990 dibagian tengah kaki candi terdapat abu jenazah dari Raja Anusapati, namun tidak semua karena sebagian ada yang dilarung di laut” tambah Romlah.

Romlah menambahkan,  patung Anusapati yang berwujud Siwa saat ini masih berada di museum Royal Tripical Institute Amsterdam, Belanda. Patung ini sengaja diambil dari bagian badan candi oleh pemerintah Hindia Belanda yang menguasai Indonesia pada masa itu.

Candi Kidal ini memiliki panjang  10,8 meter x lebar  8,36 meter x dan tinggi 12,26 meter (tinggi asli candi adalah 17 meter). Pada kaki candi terdapat kepala naga (Kalamakara), simbol dari kekuatan yang melindungi segala kekayaan.

Di atas pintu masuk candi terdapat kepala kala sebagai lambang penjaga tempat suci, dan di tangga candi terdapat tulisan “bila naik mohon ijin petugas, alas kaki harap dilepas” untuk menjaga kelestarian, kesakralan, dan kesucian candi.

Fungsi dari Candi Kidal sendiri adalah untuk sembahyang orang Hindu, ritual atau slametan pada bulan suro, dan pada 17 Agustus untuk mengingat jasa para leluhur.

Pengunjung bisa datang pada hari Senin – Jum’at mulai 07.30 – 16.00 WIB. Lalu hari Sabtu mulai 07.30-16.30 WIB. Jumlah pengunjung jika dirata-rata dalam satu bulan bisa mencapai 700 an orang atau lebih, dengan dominasi  tamu lokal dan anak sekolah. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.