Tagana Dinsos Siapkan 800 Nasi Banyuwangi Bungkus Setiap Hari

Petrus - 22 June 2017
Tagana Dinas Sosial Kabupaten Bnayuwangi menyediakan 800 nasi bungkus setiap harinya untuk para pemudik yang masih terlantar di Pelabuhan Tanjungwangi (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Sejak Rabu (21/6/2017), Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi menyiapan 800 bungkus nasi bungkus gratis untuk para pemudik asal pulau Sapeken Madura, yang masih terlantar di ruang tunggu pelabuhan Tanjungwangi.

Menurut keterangan Komandan Harian Tagana, Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi, Suparto, dari 800 bungkus nasi yang dibagikan, diberikan pada saat penumpang berbuka puasa dan saat sahur.

“Masing-masing sesi kami berikan 400 bungkus nasi kepada para pemudik, baik untuk yg dewasa hingga anak-anak,” ujar Suparto saat ditemui Superradio, Kamis (22/6/2017).

Meskipun hanya nasi dengan lauk mie instan dan telur, namun menurut Suparto, para pemudik sangat senang dengan adanya pembagian nasi bungkus gratis tersebut. Bahkan ada beberapa pemudik yang bangga dan berterimakasih kepada Tagana Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi yang menyediakan nasi bungkus gratis.

Dikatakan oleh Suparto, kemungkinan nasi bungkus yang disediakan oleh Tagana ini bisa bertambah jumlahnya, mengingat masih adanya pemudik yang berdatangan, menjelang kedatangan kapal perintis KMP Sabuk Nusantara yang akan berangkat ke Pulau Sapeken Madura pada hari Jumat (23/6/2017) besok.

“Kami juga memberikan konsumsi nasi bungkus kepada 176 kru dan penumpang kapal perintis Prima Nusantara 01 yang kemarin terlambat berangkat lantaran mati mesin. Namun alhamdulillah pada jam 00.00 tadi malam, mereka sudah berlayar menuju Pulau Sapeken,” ujarnya.

Sementara itu, Karman (56) salah satu penumpang kapal dari Jember mengatakan, dirinya sangat berterima kasih kepada Tagana Dinas Sosial yang sudah menyediakan nasi bungkus gratis.

“Baru kali ini ada pembagian nasi bungkus gratis. Sebelumnya tidak pernah ada, sejak saya mudik dengan menggunakan kapal gratis,” katanya dengan logat Madura.

Karman mengaku, dirinya dan keluarga datang di pelabuhan Tanjungwangi sejak tanggal 17 Juni 2017, namun hingga hari ini belum bisa berangkat ke kampung halamannya lantaran belum mendapatkan tiket kapal. Selama menunggu keberangkatan, Karman mengaku setiap harinya harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 200 ribu untuk membeli makanan bagi dirinya dan keluarganya.

“Untuk satu bungkusnya saya membeli dengan harga Rp.12.000,-. Meskipun mahal saya tetap membeli, daripada anak dan istri saya tidak makan dan minum,” ujarnya.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.