Syiar Budaya Nusantara di Rumah Kerja Jokma

Yovie Wicaksono - 25 January 2019
Gunungan Pancasila, Simbol Bhinneka Tunggal Ika Ditampilkan di Rumah Kerja Jokma, Surabaya, Kamis (24/1/2019) Malam. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Rumah Kerja Bhinneka Nusantara Jokowi – Ma’ruf (Jokma) Jawa Timur (Jatim) di Jalan Trunojoyo No.75, Surabaya, Jawa Timur, menggelar berbagai pagelaran seni sebagai syiar untuk memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01. Acara tersebut sekaligus untuk menjaga dan melestarikan budaya nusantara.

“Disini Jokma hadir untuk budaya nusantara, kita ingin nguri-uri budaya, selain sebagai syiar untuk memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, dengan budaya ini kita ikut mensukseskan nawacita pasangan Jokowi – Kyai Ma’ruf, dimana beliau akan menomor satukan sumber daya manusia (SDM) yang berlandaskan kepribadian budaya nusantara,” ujar Ketua Jokma Jawa Timur Irawan Setiabudi kepada Super Radio, Kamis (24/1/2019) malam.

Irawan mengatakan, didalam seni budaya terdapat nilai-nilai dimana Pancasila sebagai dasar negara dulu digali melalui nilai-nilai budaya bangsa. Seperti asas gotong royong, asas ke Tuhanan, dan kejujuran yang digali oleh Bung Karno dan pahlawan lainnya melalui khasanah budaya nusantara.

Pegiat budaya, Ali Maschan Moesa mengatakan,  mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika utamanya keberagaman merupakan misi jangka panjang dari kelompok kerja (pokja) pemenangan Jokma.

“Itulah salah satu kelebihan kelompok kerja (pokja) pemenangan jokma (Jokowi – Ma’ruf) selain misi pokok kita untuk memenangkan Jokma di Pemilu 2019, kita juga memiliki misi jangka panjang untuk mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika utamanya keberagaman.  Makanya struktur kepengurusan jokma ini dari lintas agama,” ujar mantan ketua PWNU Jawa Timur periode 1999 – 2008 itu.

Sedangkan perwakilan dari Keraton Surakarta Hadiningrat (Solo) Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger menanggapi isu hoax yang banyak beredar di tahun politik ini merupakan sebuah hal yang sudah ada sejak jaman dulu untuk memprovokator.

“Kabar bohong kalau di Jawa itu disebut kabar sing ora nyoto, hoax sejak jaman dulu sebenarnya sudah digunakan untuk provokator, membuat orang menjadi marah. Disini pengayom, masyarakat, para ulama serta semua yang terkait dengan struktur religi harus mengatur itu, memberikan bisikan-bisikan kebenaran agar tidak mudah percaya pada hoax. Negara juga harus menguatkan, sehingga masyarakat terayomi dan tinggal pembinaan,” ujar pria yang kerap disapa Gusti Puger ini.

Gusti Puger mengatakan, seorang pengayom harus memberikan pemahaman guyub rukun kepada masyarakat agar tidak terpecah belah dengan adanya hoax.

“Ya harus diberi semacam pemahaman guyub rukun, saling mengerti, saling mengingatkan, bukan saling menghancurkan. Kalau kita mau bhinneka, kita harus saling mengingatkan, jangan ego. Maka ada falsafah Jawa yang mengatakan nek kowe kuoso ojok kumawoso, kumawoso itu semaunya sendiri,” ujar Gusti Puger.

Sekedar informasi, setelah diresmikan, Rumah Kerja Bhinneka Nusantara Jokma Jatim menggelar berbagai pertunjukan kesenian seperti reog ponorogo, barongsoi, dan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Pandawa Kumpul oleh Ki Ardi Purbo Antono. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.